Militan ISIS kembali dipukul mundur dari Palmyra

Palmyra Hak atas foto Reuters
Image caption Tentara Suriah memasuki Palmyra setelah berhasil mengusir ISIS, April lalu.

Upaya militan ISIS untuk merebut kembali Palmyra menemui kegagalan, dan mereka dipukul mundur oleh serangan-serangan udara Rusia.

Jet-jet Rusia memaksa mereka mundur ke pinggiran kota, beberapa hari setelah mereka berupaya masuk kembali kota kuno yang pernah mereka kuasai selama 10 bulan, para pejabat Rusia dan pegiat setempat mengungkapkan.

Tentara Suriah juga mengirimkan bala bantuan terhadap pasukan yang menjaga kota itu, disebutkan dengan mengerahkan sebagian tentara dari Aleppo.

ISIS menguasai kota warisan budaya dunia UNESCO itu sejak Mei 2015 hingga diusir keluar, Maret tahun ini.

Kelompok radikal itu melancarkan serangan pekan ini, dan para serdadunya memasuki lagi Palmyra, Sabtu, dalam apa yang digambarkan pegiat lokal kepada BBC sebagai 'kurang lebih' jatuhnya lagi Palmyra ke tangan ISIS.

Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris menyebut, pemboman berat jet-jet Tusia memaksa ISIS mundur ke pinggiran kota.

Pertempuran pun terus berlangsung di kawasan itu.

Moskow menyebut, tentara Suriah mengusir ISIS dengan bantuan angkatan udara mereka. Menurut Kementerian pertahanan Rusia, mereka melancarkan 64 serangan dan menewaskan lebih dari 300 militan.

Laporan-laporan menyebut, militan ISIS mengemudikan kendaraan yang penuh bahan peledak dalam pertempuran itu.

Hak atas foto Reuters
Image caption ISIS diusir mundur dari Palmyra Maret lalu, namun sekarang mereka berusaha kembali.

Palmyra merupakan kawasan strategis bagi ISIS karena letaknya yang dekat dengan ladang-ladang minyak.

ISIS menghancurkan banyak monumen dan memenggal kepala direktur arkeologi Suriah 10 tahun selama pendudukan mereka di Palmyra dan Tadmur.

Dua kuil berusia 2.000 tahun, sebuah gapura dan sebuah menara pemakaman, hancur berkeping.

ISIS melakukan penghancuran sengaja karena menganggap benda-benda purba itu sebagai berhala.

Para pejabat AS dan Rusia dijadwalkan bertemu di Jenewa untuk merundingkan kemungkinan langkah pengungsian warga sipil dan pemberontak dari Aleppo. Namun apakah akan dicapai kesepakatan, masih tanda tanya.

Berita terkait