Sekjen PBB cemaskan 'kekejaman' di Aleppo

aleppo Hak atas foto Reuters
Image caption Fasilitas kesehatan di Aleppo yang dikuasai pemberontak, sangat minim.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon melontarkan peringatan "tentang laporan kekejaman terhadap sejumlah besar warga sipil" di kota Aleppo, Suriah.

Ban mendesak semua pihak, terutama pemerintah Suriah dan sekutunya, untuk melindungi warga sipil.

Penasihat kemanusiaan PBB Jan Egeland sebelumnya mengatakan Suriah dan Rusia adalah pihak yang 'bertanggung jawab' atas kekejaman yang dilakukan oleh milisi pro-pemerintah.

Kemajuan besar yang dicapai tentara Suriah mengakibatkan pemberontak di Aleppo berada di ambang kekalahan.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Ban Ki-moon, Stephane Dujarric mengatakan 'sekretaris jenderal khawatir atas laporan tentang kekejaman terhadap sejumlah besar warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak di Aleppo, selama beberapa waktu terakhir ini."

"Sementara ini, ditekankan bahwa PBB belum mampu untuk memverifikasi laporan-laporan ini secara independen, namun sekretaris jenderal menyampaikan keprihatinan mendalam kepada pihak-pihak terkait."

"Sekjen telah menginstruksikan utusan khusus untuk Suriah untuk menindaklanjuti hal ini segera bersama pihak-pihak terkait," tambah pernyataan itu.

Hak atas foto AFP
Image caption Sebagian warga Aleppo merayakan 'kemenangan' setelah mendapat kabar bahwa tentara pemerintah sudah mendekat dan pemberontak meninggalkan wilayah itu.

Sejauh ini belum ada pernyataan dari pemerintah Suriah atau sekutunya Rusia.

Egeland sebelumnya bercuit bahwa pemerintah Suriah dan Rusia "bertanggung jawab atas setiap dan semua kekejaman yang kini dilakukan oleh milisi yang menjadi pihak pemenang di Aleppo."

Sejak pasukan pemerintah meningkatkan serangan mereka untuk merebut kembali ALeppo sebulan yang lalu, kaum pemberontak telah kehilangan lebih dari 90% wilayah yang mereka pernah mereka kuasai di Aleppo timur.

Pada hari Senin (13/12), Letnan Jenderal Zaid al-Saleh, kepala komite keamanan pemerintah Suriah di daerah itu mengatakan,para serdadu pemberontak 'tidak punya banyak waktu lago' dan harus 'menyerah atau mati.'

Puluhan ribu warga sipil juga diyakini berada di daerah yang dikuasai pemberontak.

Televisi pemerintah Suriah memperlihatkan gambar warga Aleppo melakukan perayaan, di tengah laporan bahwa tentara pemerintah sudah dekat sekali dengan kemenangan.

Sejak empat tahun terakhir kota ini telah terbagi dua: pemerintah menguasai bagian barat, dan pemberontak menguasai bagian timur.

Hak atas foto EPA
Image caption Tentara pemerintah SUriah disebutkan sudah menguasai sebagian besar wilayah Aleppo timur yang semula dikuasai pemberontak.

Tentara Suriah akhirnya memecah kebuntuan dengan bantuan milisi yang didukung Iran dan serangan udara Rusia, melakukan pengepungan sejak awal September dan kemudian melancarkan serangan habis-habisan.

Rusia, yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan, lebih dari 100.000 orang warga sipil telah mengungsi akibat pertempuran itu dan bahwa 2.200 pejuang pemberontak telah menyerah.

Lembaga pengamat HAM Suriah mengatakan setidaknya 415 warga sipil dan 364 tentara pemberontak tewas di dalam wilayah yang dikuasai pemberontak sejak 15 November. Lalu 130 warga sipil lainnya tewas akibat serangan roket dan mortir pemberontak ke wilayah barat yang dikuasai pemerintah.

Rusia yang mendukung pemerintah dan Amerika Serikat yang mendukung para pemberontak, mengadakan pembicaraan di Jenewa akhir pekan lalu untuk membahas kesepakatan untuk warga sipil dan pemberontak untuk meninggalkan Aleppo.

Tapi pada hari Senin, para pejabat AS mengatakan sejawat mereka dari Rusia menolak proposal untuk penghentian permusuhan segera yang memungkinkan pengungsian yang aman.

Para pengamat mengatakan jatuhnya Aleppo akan menjadi pukulan besar bagi oposisi, karena itu akan berarti pemerintah menguasai empat kota terbesar Suriah.

Berita terkait