Tak ada perintah sabuk pengaman jelang kecelakaan pesawat Chapecoense

Chapecoense Hak atas foto AFP/RAUL ARBOLEDA
Image caption Rekaman menunjukkan percakapan pilot bahwa pesawat kehabisan bahan bakar, sehingga mesin mati, dan pesawat jatuh.

Seorang penyintas kecelakaan pesawat di Kolombia yang menewaskan 71 orang termasuk sebagian besar tim sepakbola klub Chapecoense Brasil, mengaku mereka tak diminta mengencangkan sabuk pengaman sebelum pesawat jatuh.

Rafael Henzel, aseorang jurnalis berusia 43 tahun yang terbang bersama Chapecoense di pesawat LaMia itu mengatakan, awak penerbangan tak menyampaikan peringatan apa pun kepada penumpang.

Henzel adalah satu dari enam orang penyintas atau yang selamat dalam kecelakaan pesawat 28 November itu.

Pesawat itu dicarter oleh tim Chapecoense yang melakukan perjalanan ke kota Medellin untuk bermain di laga pertama final Copa Sudamericana melawan Atletico Nacional.

Para penyelidik meyakini, pesawat jatuh karena kekurangan bahan bakar.

Dalam sebuah rekaman yang bocor, terdengar sang pilot, Miguel Quiroga, menyebutkan 'listrik yang mati total' dan 'bahan bakar habis."

Dalam wawancara pertama sejak kecelakaan, Henzel menegaskan kepada Fantastico TV, Brazil, para penumpang tak menerima peringatan apa pun saat pesawat menuju kejatuhannya.

"Tak ada yang meminta kami untuk mengencangkan sabuk pengaman," katanya. "Setiap kali kami tanya kapan akan tiba, mereka menjawab, "10 menit lagi."

"Lalu listrik dan mesin padam. Itu membuat kami ketakutan, namun kami tetap diberi informasi apa pun. Kami tak tahu apa yang sedang terjadi," kata Henzel.

Ia berkisah, bagaimana orang-orang bergegas kembali ke kursi masing-masing tatkala pesawat menjadi gelap. Namun tak ada yang menyangka pesawat akan jatuh.

Hak atas foto REUTERS/Fredy Builes
Image caption Ambulans carteran dari Brasil, untuk membawa penjaga gawang Jackson Follman, yang selamat dalam kecelakaan pesawat sewaan klub Chapecoense yang menewaskan 71 orang.

Perjalanan pulang

Sang jurnalis mengatakan, hal paling menyedihkan baginya adalah menyadari, dua jurnalis yang terbang bersamanya di pesawat, meninggal dunia.

Henzel mengalami patah di tujuh tulang iganya dan merupakan orang kedua terakhir yang diselamatkan, tatkala harapan untuk menemukan penyintas sesungguhnya sudah memudar.

Disebutkannya, saat itu ia melihat lampu senter mereka, lalu berteriak agar mereka tahu tentang keberadaannya.

Ia dan dua penyintas lain, dua pemain Chapecoense, Jakson Follmann dan Alan Ruschel, dijadwalkan terbang pulang ke Brasil dalam beberapa hari mendatang.

Pemain Chapecoense lainnya, Neto masih dirawat di ruang perawatan intensif si Bogota, Kolombia

Dua awak pesawat yang selamat, warga Bolivia Ximena Sanchez dan Erwin Tumiri sudah kembali ke Bolivia.

Topik terkait

Berita terkait