Pembunuh jemaat gereja kulit hitam AS dinyatakan bersalah dan terancam hukuman mati

Dylann Roof Hak atas foto Reuters
Image caption Roof mengaku ingin memicu suatu peperangan, dan dalam pengakuan kepada FBI ia tertawa-tawa sambil memperagakan caranya memberondongkan senjata kepada korban.

Seorang penganut supremasi kulit putih dinyatakan bersalah membunuh sembilan jemaat kulit hitam di sebuah gereja di Carolina Selatan dalam serangan bermotif rasial.

Keputusan 12 juri yang dibacakan lebih dari dua jam itu menyatakan Dylann Roof, 22 tahun bersalah untuk semua 33 dakwaan, termasuk kejahatan kebencian.

Apakah ia akan mendapatkan hukuman mati sebagaimana diancamkan, akan diketahui dalam sidang pembacaan keputusan hukuman oleh hakim, bulan depan.

Serangan yang dilancarkan saat berlangsung studi Alkitab di Gereja Methodis Episkopal Emanuel Afrika tahun 2015 itu, mengguncangkan Amerika.

Kasus itu juga menghidupkan kembali perdebatan tentang hubungan ras dan kepantasan pengibaran bendera Konfederasi.

Roof mengatakan kepada polisi ia ingin meletuskan perang ras.

Ia juga tampak berfoto memegang bendera Perang Saudara, yang bagi banyak orang merupakan simbol kebencian.

Tragedi itu menyebabkan bendera Konfederasi diturunkan dari gedung parlemen Carolina, setelah berkibar selama 50 tahun.

Pada upacara peringatan bagi para korban di gereja di Charleston, Presiden Barack Obama menyanyikan Amazing Grace dan menyampaikan salah satu pidato paling penting tentang hubungan antar ras.

Dalam rekaman pengakuan kepada FBI, Roof terlihat tertawa-tawa dan membuat gerakan memberondongkan senjata sambil menggambarkan serangan itu.

Dia mengatakan kepada para penyelidik bahwa ia ingin dunia tahu bagaimana dia membenci orang kulit hitam dan menganggap mereka adalah para penjahat.

Roof mengaku melakukan pembantaian itu setelah mempelajari "kejahatan kulit hitam terhadap kulit putih" secara daring, dan memilih gereja sebagai sasaran karena korbannya tidak mungkin untuk melawan.

Pengacara David Bruck mengakui, bahwa Roof melakukan pembunuhan tetapi disebutkannya bahwa dia adalah seorang penyendiri yang berkecenderungan bunuh diri yang tidak menyadari sepenuhnya apa yang telah dilakukannya.

Dylann Roof juga dinyatakan untuk pidana menghalangi pelaksanaan agama orang-orang yang ditembakinya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Gereja ini jadi sasaran, karena jemaatnya kebanyakan adalah warga kulit hitam.

Sesudah pembacaan keputusan, seorang penyintas, Felicia mengatakan bahwa Roof adalah seorang pengecut karena tak mau menatapnya saat ia memberikan kesaksian.

Disebutkannya, ia ingat bagaimana Roof membunuh kawan-kawannya.

"Di muka saya akan selalu ada senyum, karena kalau kita lihat foto-foto para korban, semuanya menyunggingkan senyuman," katanya.

Southern Poverty Law Center, lembaga yang memantau kejahatan kebencian mengatakan, Roof adalah 'wajah modern terorime domestik."


Image caption Enam dari sembilan korban pembunuhan Dylann Roof.

Topik terkait

Berita terkait