Obama sudah memperingatkan Putin agar Rusia hentikan peretasan

Obama Hak atas foto EPA/MICHAEL REYNOLDS
Image caption Presiden Obama mengatakan, ia sudah memperingatkan Putin soal peretasan sejak September.

Presiden Obama mengatakan, ia sudah mengatakan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin agar Rusia menghentikan peretasan terhadap email-email Amerika Serikat.

Barack Obama juga mengisyaratkan bahwa presiden Rusia itu tahu tentang terjadinya peretasan : "Tak banyak yang terjadi di Rusia tanpa Vladimir Putin," tandas Obama.

Disebutkan, Presiden Obama memperingatkan Presiden Putin menganai hal itu sebelum pemilihan presiden AS.

Dalam sebuah KTT bulan September itu, kata Obama, ia meperingatkan Putin tentang konsekuensi serius dari peretasan itu.

Sebulan kemudian, Amerika Serikat secara terbuka menuduh Rusia berusaha mengganggu proses demokrasi di AS.

Presiden berjanji akan mengambil tindakan yang 'proporsional' atas peretasan terhadap Partai Demokrat dan email milik ketua kampanye calon presiden yang kalah, Hillary Clinton.

Dia mengisyaratkan bahwa AS bisa sangat ofensif dengan kekuatan siber mereka. "Apa pun yang mereka lakukan pada kita,kita juga bisa saja melakukannya kepada mereka"

Obama mengatakan hal ini saat konferensi pers terakhirnya tahun ini.

Presiden Obama tidak mengkritik langsung penggantinya, Republik Donald Trump, namun melontarkan sentilan bahwa sejumlah tokoh Partai Republik menyepelekan seriusnya keterlibatan Rusia dalam pemilu AS.

Dia juga menyatakan kebingungannya atas pendukung Partai republik yang mengatakan mereka menyetujui Putin. Hal itu, kata Obama, bisa membuat "Ronald Reagan bangkit dari kuburnya."

Presiden mendesak presiden terpilih Trump untuk mendukung penyelidikan bipartisan untuk ganguan siber Rusia.

Awal pekan ini, Donald Trump mengecam intelijen AS yang menyebut peretas Rusia membantu mengarahkan pemilihan presiden untuk keuntungannya. Trump menuding kesimpulan itu konyol dan bermotivasi politik.

Dia bercuit: "Bisa Anda bayangkan jika hasil pemilunya sebaliknya dan KITA mencoba memainkan kartu Rusia/CIA (terhadap mereka). Hal itu akan disebut teori konspirasi!"

 

Hak atas foto BRENDAN SMIALOWSKI/AFP/Getty Images
Image caption Putin dan Obama: CIA menyimpulkan bahwa motivasi Rusia untuk mempengaruhi pemilihan adalah untuk memenangkan Trump, namun tak ada bukti yang dibeberkan.

Direktur CIA John Brennan mengatakan kepada para stafnya pada 16 Desember bahwa FBI setuju dengan kesimpulan CIA bahwa tujuan Rusia dengan peretasan itu adalah untuk membantu menangnya Trump.

Kremlin membantah tudingan AS bahwa Rusia meretas email pemerintah, dan menyebut tudingan itu 'tidak senonoh.'

"Mereka perlu berhenti berbicara tentang hal ini, kalau tidak mereka harus menyodorkan semacam bukti," kata juru bicara Putin.

'Dendam pribadi Putin'

Tanggapan Kremlin muncul setelah Hillary Clinton untuk pertama kalinya mengaitkan kekalahannya di pilpres dengan peretasan Rusia.

Dia mengatakan kepada para donor partai bahwa Presiden Putin memiliki 'dendam pribadi' terhadapnya, karena lima tahun lalu Clinton menyebut pemilihan parlemen Rusia berlangsung curang.

Clinton juga menyebut, surat Direktur FBI James Comey yang menyebut akan menyelidiki lagi email-email Clinton hanya 11 hari menjelang pencoblosan, mengakibatkan kekalahannya di negara-negara bagian kunci.

Hak atas foto Mark Wilson/Getty Images
Image caption Clinton menegaskan, ini bukan sekadar soal kekalahannya di Pilpres, melainkan integritas dan keamanan AS.

The New York Times mengatakan, ini merupakan pernyataan Clinton tentang peretasan terhadap proses pilpres oleh Rusia.

"Putin secara terbuka menyalahkan saya atas kemarahan rakyatnya sendiri (terkait kecurangan pemilu parlemen lima tahun lalu), dan itulah garis merah langsung antara apa yang dia katakan waktu itu dengan apa yang dia lakukan di pilpres AS," kata Clinton, seperti dikutip oleh Times.

"Ini bukan hanya serangan terhadap saya dan kampanye saya, walaupun mungkin hal itu berpengaruh juga. Ini adalah serangan terhadap negara kita. Ini jauh melampaui persoalan politik yang normal sekarang. Ini adalah tentang integritas demokrasi kita dan keamanan bangsa kita."

Berita terkait