Bus pembawa pengungsi Suriah dibakar pemberontak

Suriah, aleppo, perang Hak atas foto Reuters
Image caption Sekelompok pria bersenjata dilaporkan memaksa supir ke luar dari bus sebelum dibakar.

Beberapa bus yang dikirim untuk membawa orang yang sakit dan cedera dari dua kampung yang dikuasai tentara pemerintah di Provinsi Idlib, Suriah, dibakar kelompok pemberontak.

Serangan itu ditujukan untuk menghentikan upaya mengevakuasi warga sipil dari kawasan-kawasan yang terkepung.

Pasukan yang mendukung pemerintah Suriah mengatakan penduduk di Foah dan Kefraya seharusnya dibiarkan untuk pergi agar evakuasi dari Aleppo timur bisa dimulai.

Media resmi mengatakan bahwa konvoi sudah mulai meninggalkan Aleppo, Minggu (18/12), namun laporan-laporan lain menyebutkan mereka kembali lagi ke tempat asalnya.

Rencana awal adalah mengevakuasi warga dari kantong-kantong yang dikuasai pemberontak di Aleppo, yang direbut kembali oleh pasukan pemerintah, Jumat (16/12) pekan lalu.

Hak atas foto AP
Image caption Anak-anak yang cedera termasuk yang akan dievakuasi dari Provinsi Idlib.

Perang yang sengit di Aleppo dan sekitarnya menyebabkan banyak penduduk yang terlantar di beberapa tempat di sepanjang jalan tanpa cadangan makanan dan maupun tempat tinggal sementara.

Walau sempat tertunda, namun sejumlah bus berhasil memasuki Foah dan Kefraya, seperti dilaporkan lembaga pegiat Suriah yang bermarkas di Inggris -Pengawas Suriah untuk Hak Asasi, SOHR.

Belum ada komentar jihadis

Namun keenam bus tersebut diserang dan dibakar, yang menurut media pemerintah dilakukan oleh 'para teroris bersenjata', merujuk pada kelompok pemberontak yang melawan Presiden Bashar al-Assad.

Kantor berita AFP melaporkan sekelompok pria bersenjata memaksa para supirnya keluar sebelum membakar bus-bus tersebut.

Kelompok pemberontak yang moderat, Tentara Pembebasan Suriah, mengecam pembakaran sebagai 'tindakan ceroboh' yang membayakan hidup 50.000 orang di Aleppo timur.

Image caption Belum jelas kelompok yang membakar bus-bus yang akan mengevakuasi warga sipil ini.

Namun belum ada komentar dari kelompok jihadis Islam.

Sekitar 1.2000 orang rencananya akan dibawa ke luar dari kantong-kantong yang sebelumnya diduduki kelompok pemberontak untuk ditukar dengan jumlah yang sama dari kampung Foah dan Kefraya, yang dikuasai pasukan pemerintah.

Mereka yang akan dievakuasi antara lain adalah warga yang sakit dan cedera, termasuk anak-anak.

"Kami sangat mengkhawatirkan nasib mereka. Jika anak-anak tersebut tidak dievakuasi maka mereka bisa mati," tulis badan anak PBB, UNICEF, dalam pernyataannya.

Laporan-laporan menyebutkan kesepakatan baru tentang evakuasi dicapai Minggu pagi namun penundaan jelas menyebabkan ribuan penduduk sipil tetap terlantar.

Topik terkait

Berita terkait