ISIS dorong anak-anak 'lancarkan serangan' di London, Paris, dan New York

Big Ben Hak atas foto AFP
Image caption Para pejabat keamanan meyakini ISIS ingin melancarkan serangan di London, Paris, dan New York.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) diyakini menyediakan aplikasi dan material lain bagi anak-anak dengan maksud 'menyiapkan generasi baru teroris', kata para analis dan pejabat militer Barat.

ISIS mendirikan berbagai kios internet di wilayah-wilayah yang mereka kuasai di Irak dan Suriah, yang bisa dipakai oleh anak-anak untuk mengakses aplikasi dan situs-situs internet, baik untuk belajar bahasa Arab maupun 'ideologi ISIS'.

Di bagian pelajaran bahasa Arab, ada foto tank, senjata, dan ciri khas kota di Eropa dan Amerika.

"Apa yang dilakukan ISIS ini sungguh sangat tercela, mereka menyiapkan anak-anak untuk melakukan serangan di Barat... sasarannya adalah tempat-tempat seperti Patung Liberty, Big Ben, dan Menara Eiffel," kata John Dorrian, perwira menengah militer AS yang terlibat dalam perang melawan ISIS di Timur Tengah.

"Anak-anak diindoktrinasi. Mestinya mereka belajar bahasa Arab, tapi bahasa dan foto yang digunakan sangat terkait dengan kekerasan dan ekstremisme. Anak-anak ini akan diberi penghargaan bila mengatakan mau melakukan serangan di Barat," jelas Dorrian seperti dikutip media Inggris The Independent.

Ia mengatakan sangat prihatin dengan perkembangan ini dan sebisa mungkin berbagai pihak harus menyelamatkan anak-anak dari indoktrinasi ISIS.

Hak atas foto AFP
Image caption ISIS memberi penghargaan ke anak-anak 'yang bersedia melancarkan serangan di Paris, London, dan New York'.

Selain mendirikan kios internet, ISIS juga diyakini terus menyebar paham radikal dengan tujuan merekrut anak-anak muda di Barat untuk mencari para petempur baru yang ingin bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Diperkirakan ada kenaikan tajam jumlah anak-anak dan remaja di garis depan, yang diperkirakan mencapai sekitar 50.000 setelah ISIS mengalami pukulan telak di Mosul (Irak) dan Raqqa (Suriah).

Sekitar 300 remaja tewas, sebagian besar dalam aksi-aksi bunuh diri dan angka ini akan bertambah jika tipe serangan tersebut dilanjutkan.

Sebagian besar anak-anak yang berada di bawah kontrol ISIS berasal dari Irak, Suriah, Yaman, dan Maroko. Juga ada anak-anak yang berasal dari Inggris, Prancis, Australia, dan beberapa negara Barat lain.

Seorang pejabat keamanan Inggris mengatakan tak mudah menyelamatkan anak-anak dari kontrol ISIS.

"Kami tahu ada anak-anak dari Barat yang berada di Suriah, juga ada anak-anak yang lahir di sana dari orang tua yang berasal dari Barat. Situasinya sangat kompleks dan tak mudah mencari jalan keluar," katanya.

Topik terkait

Berita terkait