Amerika Serikat akan kerahkan kembali tank-tanknya ke Eropa

AS. Ben Hodges Hak atas foto AP/Mindaugas Kulbis
Image caption Letjen Ben Hodges mengatakan NATO mengubah posisinya dari penjaminan menjadi pencegahan.

Tank-tank Amerika Serikat akan kembali ditempatkan di Eropa sebagai pertanda peningkatan ketegangan antara AS dengan Rusia.

Pemerintah Washington menarik senjata beratnya dari daratan Eropa tiga tahun lalu.

Namun militer Amerika Serikat membuka kembali fasilitas gudang dari masa perang dingin untuk menyimpan peralatan militernya, yang dibutuhkan jika terjadi krisis.

Bulan depan, satu Brigade Bersenjata Amerika Serikat akan mendarat di Eropa, seperti dijelaskan Panglima Tentara AS di Eropa, Letnan Jenderal Ben Hodges, kepada BBC.

Letjen Hodges menambahkan bahwa NATO mengubah posisinya di Eropa dari penjaminan menjadi pencegahan.

Hak atas foto EPA/INGO WAGNER
Image caption Keterlibatan Rusia di Ukraina dan Suriah meningkatkan ketegangan antara Moskow dan Barat.

Sekitar 4.000 tentara AS, Inggris, dan sekutu-sekutu NATO lain akan dikerahkan ke kawasan Eropa Timur, bersama Brigade Bersenjata itu.

Keterlibatan Rusia di Ukraina dan Suriah telah meningkatkan ketegangan antara pemerintah Moskow dengan negara-negara Barat.

Suriah jadi 'tempat latihan'

Letjen Hodges juga menuduh Rusia menggunakan Suriah sebagai tempat untuk latihan menembak karena menggunakan senjata yang menurutnya tidak diperlukan di kawasan-kawasan penduduk sipil.

"Yang kita lihat di Suriah, tentu saja, pertunjukan kemampuan dan penggunaan senjata yang tidak diperlukan," tegasnya.

Hak atas foto Kementrian Pertahanan Rusia
Image caption Serangan udara Rusia membantu pasukan pemerintah Rusia untuk merebut kembali daerah yang dikuasai kelompok pemberontak.

Presiden terpilih AS, Donald Trump, sudah memberi isyarat ingin menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia namun Letjen Hodges mengungkapkan harapan bahwa Amerika Serikat akan meneruskan komitmen untuk membela sekutu-sekutunya di NATO.

Rusia membantu pasukan pemerintah Suriah lewat serangan udara, antara lain untuk merebut kembali Aleppo dari tangan pasukan pemberontak. Tahun 2014, Moskow juga menduduki Krimea dari Ukraina.

Kementerian Pertananan Rusia mengeluarkan pernyataan, Kamis (22/12), bahwa serangan udaranya berhasil menewaskan 35.000 pasukan pemberontak di Suriah.

Mereka juga membantah menjadikan warga sipil sebagai sasaran serangan.

Berita terkait