Ketika PM Israel 'marah besar' dan panggil dubes Amerika Serikat

Benjamin Netanyahu Hak atas foto AFP

Perdana Menteri Israel memanggil para duta besar negara anggota Dewan Keamanan PBB setelah PBB meloloskan resolusi yang mengecam pembangunan permukiman Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan.

Mereka yang dipanggil PM Benjamin Netanyahu dan mendapatkan 'peringatan pribadi' adalah dubes Amerika Serikat untuk Israel, Dan Saphiro.

Yang juga dipanggil oleh PM Netanyahu ke kantornya pada hari Minggu (25/12) adalah dubes Inggris, Rusia, Cina, Jepang, Ukraina, Prancis, Angola, Mesir, Uruguay, dan Spanyol.

PBB mengeluarkan resolusi -yang pertama sejak 1979- yang isinya menegaskan bahwa pembangunan permukiman Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jerusalem Timur 'tak memiliki landasan hukum, jelas-jelas melanggar hukum internasional, dan menjadi kendala bagi solusi dua negara dalam kaitan menyelesaikan masalah Israel-Palestina'.

Resolusi ini disetujui karena Amerika mengambil tindakan yang sangat tidak biasa dengan memilih abstain ketika pemungutan suara dilakukan. Di masa lalu, AS biasanya memveto setiap resolusi yang kritis terhadap Israel.

Rekayasa Amerika?

Hak atas foto AP
Image caption Untuk pertama kalinya sejak 1979 PBB mengeluarkan resolusi mengecam pembangunan permukiman Yahudi oleh Israel.

Sejak setahun terakhir, pemerintah Presiden Obama secara terbuka menyatakan tidak setuju dengan perluasan permukiman Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan.

Resolusi yang dikeluarkan PBB pada hari Jumat (23/12) akan memaksa Israel untuk menghentikan semua pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Jerusalem Timur.

Israel menggambarkan resolusi PBB sebagai 'memalukan' dan PM Netanyahu menuduh Amerika -salah satu sekutu dekat Israel- sengaja 'merekayasa keluarnya resolusi ini', tuduhan yang sudah dibantah Washington.

"Dari informasi yang kami terima, tak diragukan lagi bahwa pemerintah Obama menginisiasi, berada di belakang, mengatur isi, dan mendesak agar resolusi ini diloloskan," kata Netanyahu.

"(Mestinya negara-negara) Sahabat tidak saling menyerang di Dewan Keamanan," tambahnya.

Permukiman Yahudi adalah salah satu persoalan paling pelik dalam hubungan Israel-Palestina. Lebih dari 500.000 warga Yahudi tinggal di 140 permukiman yang dibangun sejak 1967 ketika Israel menduduki Tepi Barat dan Jerusalem Timur, dua wilayah dari negara masa depan Palestina.

Pembangunan permukiman ini melanggar hukum internasional, namun Israel menentang pendapat tersebut.

Berita terkait