Jepang tarik duta besarnya terkait patung 'budak seks' di Korea Selatan

Patung budak seks Hak atas foto AP
Image caption Para aktivis di Korea Selatan meletakkan patung 'budak seks' di luar konsulat Jepang di Busan tanggal 28 Desember.

Jepang menarik duta besarnya untuk sementara di Korea Selatan, terkait peletakkan patung budak seks atau perempuan yang dipaksa bekerja di rumah bordil Jepang pada masa Perang Dunia II.

Patung ini diletakkan di luar kantor konsulat Jepang di kota Busan, Korea Selatan oleh para aktivis pada bulan lalu.

Korea Selatan sudah lama menyerukan kompensasi bagi para "perempuan penghibur", yang dipaksa bekerja di rumah bordil militer Jepang selama Perang Dunia II.

Hal ini, menurut Jepang, merupakan sebuah pelanggaran terhadap perjanjian yang disepakati untuk menyelesaikan isu ini.

Mengapa patung ini menjadi masalah besar?

Patung perunggu setinggi 1,5 meter ini menggambarkan seorang perempuan muda duduk di bangku tanpa alas kaki.

Patung ini menjadi simbol ketidakadilan yang dihadapi oleh perempuan-perempuan penghibur Korea dan lambang perjuangan mereka untuk memperoleh permintaan maaf resmi dan kompensasi dari Jepang.

Diperkirakan ada 200.000 perempuan Korea yang dipaksa menjadi budak seks selama masa peperangan. Sisanya berasal dari Cina, Filipina, Indonesia dan Taiwan.

Permasalahan ini semakin memuncak setiap tahun, karena banyak para korban budak seks ini yang sudah berusia lanjut dan meninggal. Diperkirakan ada 46 perempuan penghibur Korea yang masih hidup.

Ini merupakan masalah antara Korea Selatan dan Jepang yang tak kunjung selesai.

Apakah ini satu-satunya patung di Korea Selatan?

Tidak. Bahkan, ada patung "budak seks" lainnya yang terkenal berdiri di luar kedutaan besar Jepang di ibu kota Korea Selatan, Seoul.

Patung tersebut dipasang pada tahun 2011 dalam aksi demonstrasi para aktivis untuk menandai 1000 tahun pendudukan Jepang, mereka menyerukan permintaan maaf dan kompensasi dari Jepang.

Beberapa kalangan menyebutkan ada 37 korban budak seks yang masih hidup di Korea Selatan, sementara di Australia, patung serupa memicu perselisihan antara warga Korea dan kelompok masyarakat Jepang.

Image caption Patung "budak seks" juga berdiri di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul pada tahun 2011.

Apa yang terjadi dalam insiden terbaru?

Para aktivis Korea Selatan meletakkan patung tersebut di Busan pada tanggal 28 Desember lalu sebagai bentuk protes terhadap kesepakatan yang dibuat satu tahun sebelumnya, di mana Jepang meminta maaf dan berjanji untuk memberikan 1 miliar yen (atau sekitar Rp114 triliun) sebagai kompensasi bagi para "budak seks" Korea.

Sejumlah kritikus mengatakan kesepakatan itu dicapai tanpa konsultasi dengan para korban, tidak berisi pernyataan tanggung jawab hukum Jepang, dan tidak memberikan kompensasi langsung kepada korban.

Awalnya, polisi di Busan sudah memindahkan patung itu. Namun, beberapa hari kemudian otoritas setempat mengizinkan patung itu dipasang kembali, menyusul desakan di dalam negeri agar patung tetap berdiri di sana, demikian laporan The Korea Herald.

Apa komentar Jepang?

Jepang mengatakan patung itu telah melanggar kesepakatan tahun 2015, yang menyatakan bahwa Jepang akan melakukan kompensasi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat (06/01) Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan bahwa penting bagi kedua negara untuk melaksanakan kesepakatan.

Jepang telah menarik konsulat jendral di Busan dan duta besarnya di Korea Selatan dan menunda diskusi ekonomi tingkat tinggi.

"Kami sudah berulang kali meminta Korea Selatan untuk menangani penyelesaian masalah ini dengan tepat, tapi situasi tidak membaik, jadi kami mengambil langkah ini," kata kepala sekretaris kabinet Jepang Yoshihide Suga.

Patung-patung tersebut telah menimbulkan kemarahan warga Jepang.

Jepang sebelumnya mengklaim bahwa patung di luar kedutaan di Seoul ilegal karena melanggar Konvensi Wina 1961, yang menyatakan bahwa negara-negara tuan rumah harus melindungi tempat misi diplomatik.