Mantan Presiden Iran, Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, meninggal dunia

Akbar Hashemi Rafsanjani, Iran Hak atas foto AFP/ALI RAFIEI
Image caption Ali Akbar Hashemi Rafsanjani belajar teologi di kota suci Qom bersama Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Mantan Presiden Iran, Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, meninggal dunia pada usia 82 tahun karena serangan jantung, seperti dilaporkan media Iran.

Dia ikut berperan penting dalam reovolusi 1979 namun belakangan bertentangan dengan kelompok garis keras.

Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengatakan kepergiannya merupakan hal yang amat sulit dan mengakui perbedaan di antara mereka.

"Perbedaan pendapat dan penafsiran pada suatu saat dalam periode yang panjang sama sekali tidak pernah memutus perkawanan antara kami," kata Ayatullah Khamenei.

Hak atas foto AP/Vahid Salemi
Image caption Keluarga, saudara, dan para pejabat berkumpul mengungkapkan duka di Masjid Jamaran, Teheran.

Rafsanjani, yang menjabat presiden dalam periode 1989-1997, dibawa ke rumah sakit Shohadda di ibu kota Teheran, Minggu (09/01) dan sempat mendapat pengobatan selama sekitar satu jam namun tidak berhasil.

Sekelompok warga berkumpul di luar rumah sakit untuk mengungkapkan duka.

Presiden Hassan Rouhani -yang memiliki hubungan baik dengan Rafsanjani- datang ke rumah sakit sebelum pengumuman resmi kematiannya.

Panglima Angkata Bersenjata

Ali Akbar Hashemi Rafsanjani lahir tahun 1934 di Iran tenggara dalam keluarga petani dan belakangan belajar teologi di kota suci Qom dengan Ayatullah Ruhollah Khomeini, yang memimpin Revolusi Iran Islam tahun 1979.

Di bawah pemerintah Shah Iran, Rafsanjani sempat dipenjara beberapa kali.

Hak atas foto AP/Vahid Salemi
Image caption Tahun 2005 Rafsanjanu mencalonkan diri lagi untuk menjadi presiden namun kalah dari Presiden Mahmoud Ahmadinejad (kiri).

Pada tahun terakhir perang dengan Irak -yang berlangsung dari 1980 hingga 1988- dia ditunjuk sebagai penjabat panglima angkatan bersenjata oleh Ayatullah Khomeini.

Rafsanjani juga dianggap berperan penting dalam pengembangan program nuklir Iran, yang menurut negara-negara Barat untuk senjata nuklir walau selalu dibantah pemerintah Teheran.

Tahun 2005, dia mencalonkan diri lagi untuk menjadi presiden tahun 2005 namun kalah dari Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Dia kemudian menjadi salah seorang pengritik Presiden Ahmadinejad dengan menyerukan pembebasan tahanan politik serta kebebasan politik yang lebih besar bagi partai-partai politik yang mematuhi konstitusi.

Topik terkait

Berita terkait