Presiden Suriah sebut pengeboman Aleppo dibenarkan

Bashar al-Assad Hak atas foto SANA HANDOUT/EPA
Image caption Bashar al-Assad memberikan keterangan kepada awak media dari Prancis di Damaskus, Suriah, pada Minggu (08/01).

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan pengeboman di Aleppo timur, yang direbut kembali oleh pasukan pemerintah dari tangan pemberontak bulan lalu, dibenarkan.

"Kadang-kadang inilah harga yang harus dibayar, tetapi pada akhirnya penduduk dibebaskan dari teroris," kata Presiden Assad kepada media Prancis dan kemudian diterbitkan oleh kantor berita Suriah, Sana, pada Senin (09/01).

Ditambahkannya bahwa jatuhnya korban jiwa dari pihak penduduk sipil di Aleppo timur dan kerusakan yang terjadi akibat perang "memilukan bagi warga Suriah".

Namun ia berkilah, "Apakah lebih baik membiarkan penduduk sipil berada di bawah kendali pemberontak, di bawah penindasan mereka, kepala mereka dipenggal, dibunuh?"

Hak atas foto Khalil Ashawi/Reuters
Image caption Warga Aleppo timur, termasuk anak-anak ini, mengungsi ke kota Al-Rai yang dikuasai pemberontak di Suriah utara.

Ribuan warga sipil terjebak di beberapa distrik saja yang pada waktu itu masih dikuasai oleh pemberontak dan mereka mengalami pengeboman intensif ketika pasukan pemerintah bergerak masuk ke kota.

PBB mengatakan serangan udara pasukan pemerintah Suriah dan sekutu-sekutunya di daerah padat penduduk ketika pertempuran mencapai tahap akhir di Aleppo timur mungkin tergolong kejahatan perang.

Hak atas foto GEORGE OURFALIAN/AFP
Image caption Pasukan pemerintah Suriah membersihkan reruntuhan gedung di Aleppo setelah pemberontak meninggalkan kota itu.

Pasukan Suriah dibantu oleh militer Rusia sejak 2015 dalam melawan kelompok-kelompok pemberontak, termasuk kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

Pemberontak akhirnya melepaskan Aleppo timur tiga pekan lalu sebagai bagian dari kesepakatan untuk memungkinkan penduduk sipil dan pemberontak berpindah ke wilayah yang masih dikuasai pemberontak di Suriah utara.

Jatuhnya Aleppo timur dianggap sebagai pukulan terberat bagi pihak pemberontak dalam perang selama hampir enam tahun.

Topik terkait

Berita terkait