Jepang pertimbangkan Kaisar Akihito untuk turun tahta

Kaisar Akihito Hak atas foto AFP
Image caption Sekitar 47.000 orang hadir di acara pidato rutin tahunan kaisar, di mana dia menyerukan perdamaian.

Jepang telah mempertimbangkan perubahan Undang-Undang yang mengijinkan Kaisar Akihito untuk turun tahtanya pada akhir tahun 2018, seperti dilaporkan oleh media lokal yang mengutip sumber pemerintah.

Putra mahkota Naruhito dapat meneruskan tahta pada 1 Januari 2019, menurut laporan itu.

Akihito, 83 tahun, mengisyaratkan dia ingin mudur dari tahta, dan mengatakan usianya dapat menghambat tugasnya.

Tidak ada kaisar Jepang yang turun tahta selama dua abad ini dan hukum yang ada tidak mengijinkannya.

Kaisar Akihito akan turun tahta pada 31 December 2018, dan akan digantikan dengan putranya yang berusia 56 tahun.

Daripada mengubah secara permanen hukum untuk mengijinkan kaisar turun tahta, perubahan yang dipertimbangkan akan menjadi salah satu pengecualian.

Kebijakan itu meminggirkan kontroversi diantara kalangan konservatif mengenai perubahan undang-undang suksesi, termasuk apakah seorang perempuan diijinkan untuk meneruskan Tahta Bunga Krisan - sesuatu yang diyakini akan didukung oleh publik Jepang tetapi sejak lama ditentang oleh politisi dari kalangan ultra-konservatif.

Hak atas foto GETTY IMAGES/ASAHI SHIMBUN
Image caption Akihito menggantikan ayahnya sebagai Kaisar Jepang pada 1989.

Enam anggota panel penasihat untuk Perdana Menteri Shinzo Abe telah mendiskusikan masalah itu sejak Oktober lalu, dan bertujuan untuk mengajukan legislasi itu pada secepatnya pada Mei ini.

Kepada Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga membantah dengan mengatakan kepada wartawan semuanya "masih dalam tahap belum ada arah untuk mengambil keputusan".

Akihito, yang pernah menjalani operasi jantung dan sempat menjalani perawatan untuk kanker prostat, telah bertahta sejak kematian ayahnya Hirohito, pada 1989.

Dia tidak secara langsung mengatakan turun tahta, karena tabu baginya untuk menyampaikan pernyataan politik.

Berita terkait