Pasukan Irak 'rebut lagi' Universitas Mosul dari ISIS

Persenjataan berat digunakan dalam pertempuran merebut Universitas Mosul. Hak atas foto Reuters
Image caption Persenjataan berat digunakan dalam pertempuran merebut Universitas Mosul.

Pasukan Irak telah mengambil alih Universitas Mosul, menandai langkah militer untuk merebut lagi kawasan yang dikuasai kelompk yang menamakan diri negara Islam atau ISIS, lapor televisi Irak.

Sejak Oktober lalu, pasukan militer telah melancarkan upaya untuk merebut kembali kota Mosul - yang merupakan benteng terbesar ISIS terakhir di Irak.

Para pejabat Irak mengatakan kelompok ISIS telah menggunakan laboratorium di kompleks universitas untuk membuat senjata kimia.

Kepala operasi kontra-terorisme Irak mengatakan merebut kembali daerah itu merupakan kemenangan penting.

"Bangunan ilmiah dan budaya yang hebat ini telah dibebaskan oleh para pahlawan kita," kata Letnan Jenderal Thalib Shaghati. "Pembebasan Universitas Mosul sangatlah berarti, mengingat simbolisme budaya, sosial dan kemanusiaannya."

Namun sejumlah laporan menyebutkan masih terjadinya bentrokan di beberapa bagian kampus hingga Sabtu sore.

Hak atas foto Reuters
Image caption Berbagai bangunan universitas itu mengalami kerusakan berat sejak ISIS merebut kota Mosul.

Pasukan elit telah memasuki kompleks itu pada hari Jumat.

Para pejabat militer Irak mengklaim, mereka kini menguasai sebagian besar bagian timur kota Mosul.

Mereka juga menguasai tiga dari lima jembatan kunci yang melintasi sungai Tigris, yang membagi Mosul dua.

Jembatan-jembatan itu menjadi sasaran serangan udara koalisi pada bulan Oktober dengan tujuan membatasi kemampuan ISIS untuk mengirim pasokan kebutuhan atau memperkuat posisi mereka di timur.

Serangan pasukan Irak dimulai pada bulan Oktober, namun mengalami kemasuan yang lambat karena dihadapi dengan perlawanan sengit dan serangan balik ISIS.

Tapi kemajuan penting sepanjang sungai bisa membuka Mosul barat bagi pasukan Irak yang berusaha untuk maju ke bagian kota yang masih di bawah penguasaan ISIS itu.

Berita terkait