Mengejek legenda HAM AS, Donald Trump dikecam

John Lewis - 11 January Hak atas foto AFP
Image caption Legenda hak sipil dan anggota Kongres, John Lewis mengatakan ia tak menganggap Trump sebagai presiden yang absah.

Presiden terpilih Donald Trump jadi bulan-bulanan kecaman karena mengejek seorang legenda pegiat hak-hak sipil AS John Lewis.

Politisi, penghibur dan lainnya, tampil untuk membela juru kampanye hak-hak sipil AS, anggota Kongres John Lewis, yang terlibat dalam percekcokan dengan Presiden terpilih Donald Trump.

Trump bercuit bahwa John Lewis 'cuma ngomong belaka' dan harusnya fokus pada konstituennya, menanggapi Lewis yang mengatakan bahwa Trump bukanlah seorang presiden yang absah.

Tapi pendukung Lewis segera bereaksi mengungkapkan kemarahan, mengingatkan bahwa Lewis adalah seorang pahlawan dan sebuah ikon penting Amerika.

Lewis adalah seorang tokoh terkemuka dalam gerakan hak-hak sipil tahun 1960-an.

Dia adalah orator terakhir yang masih hidup, yang tampil dalam unjuk rasa Maret 1963 di Washington, yang dipimpin oleh Martin Luther King.

Kekisruhan terjadi setelah para aktivis hak-hak sipil yang dipimpin oleh Pendeta Al Sharpton mulai melaksanakan aksi protes satu pekan menjelang pelantikan Trump pada 20 Januari.

Beberapa ribu pengunjuk rasa menerjang suhu mendekati titik beku untuk berbaris ke Martin Luther King Jr Memorial di Washington DC, menyerukan kalimat "Tidak ada keadilan, Tak ada kedamaian."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Donald Trump selalu menggunakan twitter untuk menanggapi berbagai hal -juga dalam menyasar para pengecamnya.

Dalam perkembangan terpisah, Sabtu, bintang Broadway keturunan Afrika Amerika, Jennifer Holliday menarik diri dari penampilan di pelantikan akibat tekanan dari para fansnya, dan banyak dari mereka dari komunitas LGBT.

Holliday, yang telah tampil baik untuk presiden Republik dan Demokrat, meminta maaf atas "kekeliruan penilaian" dan berkata dia tidak menyadari partisipasinya akan dilihat sebagai dukungan untuk Trump.

Sementara John Lewis, seorang Demokrat, mengatakan bahwa dia tak akan menghadiri pelantikan dengan dasar bahwa ia tak menganggap Trump sebagai seorang presiden yang absah.

"Saya kira orang-orang Rusia terlibat dalam membuat orang ini terpilih," katanya dalam Meet the Press, stasiun NBC. Dan mereka membantu menghancurkan pencalonan Hillary Clinton."

Hari Sabtu (14/1) Trump menanggapi dengan cuitan: "Aggota Kongres John Lewis seharusnya meluangkan waktu lebih banyak dalam memperbaiki dan membantu distrik yang diwakilinya. yang berada dalam keadaan yang mengerikan, dan berantakan (tanpa menyinggung soal maraknya kejahatan) ketimbang mengeluh secara keliru tentang hasil Pemilihan Presiden. Semuanya bicara, bicara, bicara -tak ada tindakan atau hasil. Menyedihkan.

Hak atas foto Twitter
Image caption "John Lewis adalah ikon Gerakan Hak-hak Sipil, yang tak kenal takut dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan. Ia patut mendapat perlakuan lebih baik."

Namun para pendukung John Lewis segera angkat bicara.

Senator California Kamala Harris, seorang Demokrat, menegaskan, perlakuan terhadap Lewis itu keliru.

Yang lainnya menyitir keberanian Lewis dan fakta bahwa cekcok itu terjadi pada malam Hari Martin Luther King, 16 Januari.

Banyak di antaranya yang merujuk pada foto-foto dua orang itu atau pada kejadian Bloody Sunday atau Minggu Berdarah, pada 1965 di Alabama, saat Lewis menderita retak tulang tengkorak setelah unjuk rasa yang diikutinya dibubakan polisi dengan kekerasan.

Hak atas foto Twitter
Image caption "John Lewis adalah pahlawawn Amerika. Anda adalah milioner palsu yang tak mau mengungkap dokumen pajak. Singkirkan Twitter, dan mulailah serius ihwal memerintah."
Hak atas foto Twitter
Image caption Lewis di masa mudanya di gerakan sipil: Ini bukan sekadar bicara. John Lewis adalah seorang pahlawan Amerika.

Senator Partai Republik Ben Sasse mengungkapkan dukungan, mengatakan bahwa 'omongan' Lewis telah mengubah dunia. Betapa pun ia tak setuju pada langkah bokiot Lewis di pelantikan. Dikatakannya, "(Pelantikan) itu bukan tentang orang perseorangan, melainkan perayaan meralihan kekuasaan secara damai.

Hak atas foto Twitter

Berita terkait