Keputusan PM Inggris keluar dari pasar tunggal Uni Eropa dikritik

Theresa May Hak atas foto Reuters
Image caption Theresa May menyatakan keyakinan Inggris dapat mencapai kesepakatan dagang dengan Uni Eropa yang saling menguntungkan.

Keputusan PM Inggris Theresa May keluar dari pasar tunggal Uni Eropa dikritik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan Inggris tidak akan berada di dalam pasar tunggal begitu negara itu keluar dari Uni Eropa.

Dalam pidato yang ditunggu-tunggu di London pada Selasa (17/01), May mengatakan jika Inggris tetap berada di pasar tunggal maka Inggris harus tetap menerima peraturan Uni Eropa tanpa mempunyai suara.

Disebutkannya dalam kampanye referendum yang digelar pada Juni 2016 sudah jelas bahwa jika rakyat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa, yang dikenal dengan istilah Brexit, maka berarti Inggris juga keluar dari pasar tunggal.

"Jadi kita tidak menjadi anggota pasar tunggal. Sebaliknya, kita berusaha mendapatkan akses seluas-luasnya ke pasar tunggal melalui Perjanjian Perdagangan Bebas yang baru, komprehensif, berani dan ambisius," tegasnya.

Hak atas foto FACUNDO ARRIZABALAGA/EPA
Image caption Mata uang poundsterling mengalami penurunan nilai setelah Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa.

Namun keputusan Theresa May untuk membawa Inggris keluar dari pasar tunggal Uni Eropa banyak mendapatkan kecaman.

"Theresa May sudah mengukuhkan Inggris menuju ke Brexit yang sulit," kata pemimpin Partai Demokrat Liberal, Tim Farron.

"Ia mengklaim rakyat memilih untuk meninggalkan pasar tunggal. Mereka tidak menginginkan itu. Ia memilih untuk menyebabkan kerugian besar bagi perekonomian Inggris," tambahnya.

Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan keputusan Theresa May untuk meninggalkan pasar tunggal akan membuat gagasan referendum kedua bagi kemerdekaan Skotlandia "tak diragukan lagi lebih dekat".

Dari luar Inggris, Menteri Urusan Eropa Ceko Tomas Prouza mengatakan, "Rencana Inggris tampaknya sedikit ambisius."

Adapun Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier mengatakan setidaknya pada tahap ini ada sedikit kejelasan terkait rencana Inggris.

'Hukuman'

Theresa May juga memperingatkan kepada para pemimpin Uni Eropa bahwa solusi penyelesaian yang sifatnya menghukum Inggris sebagai cara untuk mencegah negara-negara lain keluar dari Uni Eropa akan merugikan blok itu sendiri.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Theresa May berjanji membatasi perpindahan penduduk dari Uni Eropa.

Namun dikatakannya ia merasa optimis penyelesaian yang saling menguntungkan, dengan memungkinkan perdagangan sebebas mungkin, bisa dicapai.

Inggris menggelar referendum untuk menentukan keanggotaannya di Uni Eropa melalui referendum Juni lalu. Jumlah suara yang menginginkan Inggris keluar tercatat 51,9%, sedangkan suara yang menginginkan tetap berada di Uni Eropa 48,1%.

Segala rencana yang berkaitan dengan Inggris keluar dari Inggris ini akan diajukan ke parlemen untuk dibahas.

Topik terkait

Berita terkait