ISIS kehilangan 'seperempat wilayahnya' selama 2016

Mosul Hak atas foto Reuters
Image caption Analisa terbaru memperkirakan kota Mosul akan dikuasai kembali oleh pemerintah Irak pada pertengahan 2017.

Kelompok yang menamakan Negara Islam atau dulu disebut ISIS kehilangan hampir seperempat wilayahnya selama tahun 2016, demikian menurut analisa mutakhir.

Kelompok ini kehilangan hampir 18.000 km persegi wilayahnya di Suriah dan Irak, sehingga yang tersisa sekitar 60.400 km persegi, ungkap penelitian terbaru lembaga riset keamanan dan pertahanan IHS Markit.

Dalam hasil penelitiannya, IHS mengatakan ISIS kehilangan sekitar 23% wilayahnya, lebih besar jika dibanding tahun 2015 yaitu kehilangan sekitar 14%.

"ISIS menderita kerugian teritorial yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk daerah-daerah penting," kata Columb Strack, analis senior dan pimpinan IHS.

Lembaga riset ini kemudian memperkirakan pemerintah Irak akan menguasai kembali kota Mosul pada pertengahan tahun ini.

Di kota Mosul, kota terbesar kedua di Irak yang dikuasai ISIS sejak Juni 2014 silam, pasukan pemerintah Irak telah "membuat kemajuan" dengan menguasai wilayah timur kota itu, demikian menurut laporan itu, walaupun mendapat perlawanan berat dalam beberapa hari terakhir.

Apabila pemerintah Irak dapat mengusir ISIS dari Mosul, analisa IHS memperkirakan Irak dapat terbebas dari ISIS.

"Kami berharap pasukan pemerintah Irak dapat merebut kembali Mosul dalam pertengahan tahun," kata Strack.

"Setelah Mosul, pemerintah Irak mungkin akan memfokuskan perhatiannya untuk mengakhiri perlawanan yang tersisa di wilayah Hawija," paparnya. Hawija selama ini dijadikan titik tolak serangan bom ISIS ke sejumlah sasaran di Baghdad.

Namun demikian, IHS memperkirakan bukan upaya yang mudah bagi pemerintah Irak untuk menghabisi perlawanan ISIS untuk merebut kota Raqa, yang dianggap sebagai "ibu kota" ISIS.

"Raqqa merupakan inti dari ISIS dan mereka tidak akan meninggalkannya tanpa perlawanan," kata Strack, menganalisa.

Pada November 2016, pasukan koalisi Kurdi dan Arab yang antara lain didukung Amerika Serikat mulai menggelar operasi untuk menguasai Raqqa, tetapi belum ada kemajuan berarti, kata laporan itu.

Laporan ini juga menyoroti apa yang disebut sebagai konflik teologi di dalam internal pimpinan ISIS, antara mereka yang mengikuti ajaran utama dan mereka yang menjalankan tafsir yang lebih ekstrim.

Apabila konflik ini terus berlanjut bisa meningkatkan risiko pembelotan atau bahkan pemberontakan, kata IHS.

Berita terkait