Meksiko tolak danai proyek tembok perbatasan AS-Meksiko

meksiko, as Hak atas foto Reuters
Image caption Soal pihak mana yang akan membiayai pembangunan tembok, Nieto menegaskan, "Saya sudah berulang kali katakan, Meksiko tidak akan mendanai tembok apapun."

Pemerintah Meksiko tidak akan mendanai proyek pembangunan tembok di sepanjang perbatasan Meksiko-Amerika Serikat, sebagaimana diputuskan Presiden AS Donald Trump.

Hal itu ditegaskan oleh Presiden Meksiko, Enrique Pena Nieto, yang juga mengaku "meratapi" rencana pembangunan pembatas seraya menambahkan bahwa "Meksiko tidak percaya pada tembok."

Soal pihak mana yang akan membiayai pembangunan tembok, Nieto menegaskan, "Saya sudah berulang kali katakan, Meksiko tidak akan mendanai tembok apapun."

"Hal ini mengemuka selagi negara kami tengah membahas aturan baru dalam bekerja sama, perdagangan, investasi, keamanan, dan migrasi di kawasan Amerika Utara. Sebagai presiden saya memikul tanggung jawab penuh untuk membela kepentingan Meksiko dan warga Meksiko."

"Berdasarkan laporan akhir para pejabat di Washington DC dan nasihat dari Kamar Dagang, sejumlah gubernur, dan sebagainya, saya akan memutuskan langkah selanjutnya yang akan diambil. Meksiko menawarkan persahabatan untuk rakyat Amerika dan kesediaan untuk mencapai kesepakatan dengan pemerintah mereka, kesepakatan yang menguntungkan baik Meksiko maupun AS," papar Nieto.

Hak atas foto Sandy Huffaker / Getty Images
Image caption Tembok perbatasan AS-Meksiko di San Ysidro, California, pada 25 Januari 2017.

Tembok perbatasan

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan pemerintahnya akan segera membangun tembok di perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko, untuk mewujudkan salah satu janji kampanyenya.

Trump telah menandatangani surat keputusan pembangunan tembok, yang panjangnya bisa mencapai 2.000 mil dengan biaya miliaran dolar, yang biayanya nanti akan diganti oleh pemerintah Meksiko, posisi yang sudah ditolak oleh pemerintah di sana.

Biaya untuk membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko, menurut Trump, mencapai sekitar US$8 miliar atau sekitar Rp106 triliun namun sejumlah pihak meyakini biaya yang sebenarnya mungkin bisa dua kali lebih besar.

Berita terkait