Turki kecam Yunani yang menolak ekstradisi tentara

turki Hak atas foto Getty Images
Image caption Para anggota militer Turki saat mendatangi kantor pengadilan Yunani.

Turki menunjukkan kemarahan setelah pengadilan Yunani menolak mengekstradisi delapan tentara Turki dari negara itu karena dituduh terlibat kudeta.

Turki menuduh Yunani gagal "memerangi terorisme" dan mengatakan keputusan itu "bermotif politik".

Delapan orang pria itu menerbangkan helikopter menuju Yunani setelah upaya kudeta pada Juli 2016 lalu. Mereka mengaku tidak terlibat dalam upaya perebutan kekuasaan itu.

Ketua Majelis Hakim Giorgos Sakkas mengatakan orang-orang itu tidak akan mendapatkan keadilan selama menjalani proses persidangan di Turki.

Turki telah menuntut tiga orang perwira militer, tiga orang berpangkat kapten dan dua orang sersan untuk diajukan ke pengadilan. Para anggota militer itu mengklaim kehidupan mereka kini terancam.

Para perwira dan anggota militer itu dituduh berperan penting dalam upaya kudeta pada 15 Juli 2016, dan dianggap memiliki hubungan dengan kelompok yang diduga hendak membunuh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

"Kami memprotes keputusan peradilan ini yang melindungi orang-orang yang mengancam keselamatan presiden kami. Mereka terbukti aktif dalam upaya kudeta yang telah menewaskan 248 orang," demikian pernyataan resmi Kementerian luar negeri Turki.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para anggota militer itu dituduh berperan penting dalam upaya kudeta pada 15 Juli 2016.

Menanggapi putusan pengadilan Yunani, otoritas hukum Turki telah menyetujui permintaan kejaksaan untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap delapan anggota militer Turki tersebut.

Kasus ini telah menjadi masalah diplomatik bagi Yunani dan menciptakan ketegangan baru antara Yunani dan Turki - dua negara yang menjadi anggota NATO.

Dua negara ini memiliki hubungan yang kompleks dan saat ini bekerja sama untuk membantu menegosiasikan kesepakatan damai terkait Siprus.

Sebelum vonis dijatuhkan, Menteri Kehakiman Yunani, Stavros Kontonis mengatakan dirinya akan menghormati keputusan peradilan atas perkara ini dan tidak akan mencampurinya.

Kedelapan anggota militer tersebut mengatakan bahwa keluarga mereka di Turki telah kehilangan pekerjaan dan paspor mereka disita karena dianggap melarikan diri.

Berita terkait