Filipina lancarkan serangan darat dan udara terhadap militan Islam

Filipina Hak atas foto AFP
Image caption Menteri Pertahanan Delfin Lorencana mengatakan laporan intelijen awal menyebutkan sedikitnya empat militan tewas.

Pemerintah Filipina sudah melancarkan serangan udara dan darat menghadapi kelompok militan Islam di kawasan Mindanao, Filipina selatan.

Ratusan tentara dikerahkan sejak Rabu (25/01) untuk memburu pemimpinnya, Isnilon Hapilon, yang diyakini berada di Provinsi Lanao del Sur, dan para anggota yang disebut Kelompok Maute.

Operasi dilancarkan setelah militer Filipina mendapat informasi bahwa Hapilon kini ditetapkan sebagai emir atau pemimpin setempat dari kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Dia diperkirakan pindah ke Provinsi Lanao del Su dari Pulau Basilan, bulan lalu, untuk mendapatkan wilayah yang lebih besar sebagai pangkalannya.

Menteri Pertahanan Delfin Lorencana mengatakan laporan intelijen awal menyebutkan sedikitnya empat militan tewas -seorang kemungkinan warga Malaysia- sementara sasaran utama, Hapilon, cedera.

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Duterte berunding dengan dua kelompok pemberontak Muslim terbesar namun memerintahkan penghancuran kelompok-kelompok kecil yang lebih radikal.

Hapilon, tambahnya, berhasil melarikan diri dari perkemahan di kawasan pegunungan terpencil di kawasan itu.

"Pasukan masih melakukan pengejaran," kata Lorenzana kepada kantor berita Associated Press (AP).

Aliansi kelompok militan

Hapilon merupakan salah satu terduga teroris yang paling dicari di dunia berdasarkan daftar Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan imbalan hadiah US$5 juta atau sekitar Rp66 miliar untuk penangkapannya.

Presiden Rodrigo Duterte beberapa kali memperingatkan bahwa kebangkitan pesat kelompok militan yang berkaitan dengan ISIS sebagai ancaman nasional.

Sambil berunding dengan dua kelompok pemberontak Muslim terbesar di Filipina, Presiden Duterte sudah memerintahkan militer untuk menghancurkan kelompok-kelompok yang lebih kecil namun yang jauh lebih radikal, seperti Abu Sayyaf yang melakukan penculikan, pemenggalan, dan pengeboman.

Abu Sayyaf merupakan kelompok yang berada di belakang penculikan belasan awak kapal asal Indonesia, yang marak beberapa waktu lalu.

Hapilon -yang pernah memimpin Abu Sayyaf sebelum menyatakan kesetiaan kepada ISIS tahun 2014- dilaporkan menghimpun aliansi yang disebut Dawlatul Islam Wilayatul Mashriq, yang diperkirakan terdiri dari 10 kelompok militan, termasuk Abu Sayyaf dan Maute.

Kelompok Maute antara lain diduga berada di belakang pengeboman sebuah pasar di Davao City yang menewaskan 15 orang pada 2 September lalu.

Topik terkait

Berita terkait