Seorang mahasiswa didakwa terkait serangan di masjid Kanada

Alexandre Bissonnette Hak atas foto Facebook
Image caption Foto seorang pria yang diketahui sebagai Alexandre Bissonnette beredar di media Kanada.

Kepolisian Kanada mendakwa seorang mahasiswa dalam kasus penembakan di sebuah masjid di Quebec yang menewaskan enam umat Muslim.

Alexandre Bissonnette, nama mahasiswa warga Prancis-Kanada itu, didakwa dengan enam tuduhan pembunuhan tingkat pertama dan lima tuduhan percobaan pembunuhan.

Tampil sejenak di sidang dengan mengenakan seragam penjara berwarna putih dan tangan-kakinya diborgol, Bissonnette tidak menyampaikan pembelaan.

Pria berusia 27 tahun itu ditangkap di dalam mobilnya di jembatan yang menghubungkan Kota Quebec dan Ile d'Orleans, sesaat setelah insiden penembakan terhadap jemaah masjid di Pusat Kebudayaan Islam Quebec.

Saat penembakan berlangsung pada Minggu (29/01) malam, lebih dari 50 orang sedang menunaikan ibadah salat Isya di dalam masjid. Akibatnya, sebanyak enam orang meninggal dunia dan 19 orang mengalami luka-luka, lima di antara mereka masih dirawat di rumah sakit.

Selain menangkap Bissonnette, aparat menahan seorang pria keturunan Maroko bernama Mohamed Khadir setelah kejadian. Khadir kini berstatus sebagai saksi.

'Serangan teroris'

Berdasarkan laporan media setempat, Bissonnette berstatus sebagai mahasiswa ilmu politik dan antropologi di Universitas Laval. Kampus tempat dia menekuni studi berjarak tiga kilometer dari masjid tempat penembakan berlangsung.

Di media sosial, Bissonnette dilaporkan 'memberi jempol' untuk Presiden AS Donald Trump dan pemimpin partai sayap kanan Prancis, Marine Le Pen.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Khaled El Kacemi, wakil ketua Pusat Kebudayaan Islam Quebec, saat memberikan keterangan kepada pers.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, dan Gubernur Quebec, Philippe Couillard, menyebut penembakan di masjid adalah serangan teroris.

"Kami mengecam serangan teroris terhadap umat Muslim di tempat ibadah dan perlindungan," ujar Trudeau.

Provinsi Quebec di Kanada telah menerima ribuan imigran dari negara-negara di kawasan Timur Tengah dan negara lain.

Namun, akhir-akhir ini ada perdebatan mengenai 'akomodasi yang layak' untuk menampung para imigran dan pemeluk agama minoritas.

Topik terkait

Berita terkait