'Presiden Donald Trump menghancurkan mimpi-mimpi saya'

Fauzia Mohamud
Image caption Fauzia Mohamud tadinya mengira AS akan menerima dengan tangan terbuka.

Banyak orang yang secara langsung terkena dampak keputusan Presiden Donald Trump memberlakukan larangan perjalanan dan pembatasan imigrasi.

Keputusan yang ditandatangani pada Jumat (27/01) pada intinya melarang masuknya pengungsi selama 120 hari dan imigran dari tujuh negara berpendukuk mayoritas Muslim selama tiga bulan.

Ketujuh negara tersebut adalah Iran, Irak, Suriah, Sudan, Libia, Yaman, dan Somalia. Berikut kisah mereka yang terkena dampak dari kebijakan Presiden Trump:

Fauzia Mohamud, pengungsi Somalia di Kenya

"Larangan ini menghancurkan semua harapan saya. Saya sangat khawatir hingga saya tak bisa makan. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan.

"Negara kami tidak aman, itulah sebabnya kami ada di sini dan kami ingin memulai kehidupan baru di Amerika. Saya diberi tahu bahwa permintaan untuk bermukim di Amerika sudah diterima, dan saya tadinya berharap sudah bisa menetap di sana dalam beberapa bulan ke depan.

"Kami mengira Amerika adalah satu-satunya negara yang akan memberi kesempatan untuk membangun kembali kehidupan kami. Sekarang, saya tak yakin apakah saya bisa menetap di sana.

"Saya khawatir, saya akan menjadi sasaran teroris ... tak ada lagi tempat yang aman."

Naveen, perempuan transgender dari Irak

"Begitu saya tahu bahwa Presiden Trump menandatangani keputusan soal pembatasan imigrasi, saya langsung sadar bahwa mimpi saya telah hancur berkeping-keping. Saya berharap mendapatkan kehidupan yang normal di Amerika, bisa merasa aman, bisa mendapatkan hak-hak dasar, tanpa merasa terancam.

"Orang tua saya ingin menghabisi saya. Saya sangat takut mereka akan tahu di mana posisi saya sekarang."

Fuad Suleman, warga Irak yang pernah bekerja di proyek Amerika

Image caption Suleman, warga Irak yang pernah membantu proyek AS, menjual rumah untuk pindah ke AS. Kini ia dilarang masuk ke negara tersebut.

"Saya merencanakan kepindahan ke Amerika Serikat selama dua tahun. Saya jual rumah dan seluruh harta yang saya miliki. Yang saya sesalkan adalah, anak-anak sudah tak bersekolah dalam satu tahun terakhir, saya tak tahu apakah mereka bisa lagi melanjutkan pendidikan mereka...

"Saya menghadiri wawancara di Kedutaan AS di Baghdad pada Desember 2015, kemudian menunggu 12 bulan untuk pengecekan keamanan, mereka melakukan pengecekan selama satu tahun dan tak mendapatkan hal-hal yang dianggap akan menjadi ancaman bagi Amerika. Itulah sebabnya saya kemudian mendapat visa Amerika.

"Sekarang ada seseorang menandatangani kebijakan yang langsung diterapkan di lapangan ... apa maksudnya? Apa yang ia lakukan persis seperti Saddam Hussein."

Georgette Abu Assali, warga Suriah, ditolak di bandar udara Philadelphia

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pembatasan imigrasi yang diberlakukan Presiden Trump memicu protes di banyak kota di Amerika.

"Anak saya telah berada di Amerika selama tiga tahun, tapi mereka tak membolehkan saya untuk menemuinya. Saya memohon petugas untuk meneleponnya, tapi mereka menolak. Mereka tak punya kemanusiaan..

"Impian saya adalah bisa menetap di Amerika ... saya banyak mendengar tentang kebebasan, demokrasi, kepastian hukum, dan hal-hal indah di Amerika. Jadi, apa yang saya alami ini, membuat saya terpukul.

"Ayah saya hampir terkena serangan jantung ketika kami disuruh pulang ... kami berada di bandara (Philadelphia) selama 60 jam. Semua tabungan sudah kami habiskan, semuanya lenyap sekarang gara-gara dia (Presiden Trump)."

Berita terkait