Duterte 'belum siap' untuk perundingan damai

Pemberontak komunis Tentara Rakyat Baru, NPA, Filipina pada 29 Desember 2016 Hak atas foto EPA
Image caption Konfilik antara pemerintah dengan Tentara Rakyat Baru sudah mengklaim puluhan ribu nyawa korban.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan dia menghapus upaya perundingan damai dengan pemberontak komunis yang rencananya akan berlangsung pada bulan ini.

Duterte mengatakan dia akan mengabaikan perundingan di Norwegia tersebut dengan Tentara Rakyat Baru (NPA) dan memerintahkan para negosiator untuk pulang.

Dia mengatakan bahwa tuntutan dari tentara pemberontak untuk melepaskan sekitar 400 tahanan dinilai berlebihan.

Perkembangan tersebut terjadi di akhir gencatan senjata enam bulan antara dua pihak.

"Saya belum siap untuk memulai (perundingan damai)," kata Duterte, dan menambahkan dia akan "meminta kontingen Filipina untuk membungkus tenda mereka dan pulang".

"Saya mencoba semuanya," katanya. "Saya sudah melakukan upaya ekstra, melepas tahanan, melepas pemimpin mereka agar mereka bisa ke Oslo untuk bicara."

Perjanjian sulit

Duterte mengatakan bahwa pemimpin komunis yang dibebaskan untuk sementara oleh pemerintahannya agar bisa ikut serta dalam negosiasi damai di luar negeri kini terancam kembali ke penjara.

Belum ada tanggapan langsung dari para pemberontak.

Perundingan pekan lalu di Italia bertujuan untuk membahas gencatan senjata gagal ketika pemberontak menuntut pembebasan 400 orang tahanan politik lain, termasuk seroang pria yang membunuh kolonel tentara Amerika pada 1989.

Gencatan senjata yang berlangsung enam bulan antara dua pihak tersebut gagal dalam beberapa hari terakhir setelah muncul pertempuran baru. Gencatan senjata sebelumnya juga diwarnai pembunuhan oleh tentara dan pemberontak.

Hak atas foto EPA
Image caption Duterte mengatakan tuntutan pemberontak komunis 'berlebihan'.

Sejak dilantik tahun lalu, Duterte sudah berupaya menghidupkan lagi proses perdamaian dan sudah mengadakan dua ronde diskusi resmi dengan pemberontak.

Konflik yang diawali sejak 50 tahun lalu dengan keterlibatan Partai Komunis Filipina (CPP) dan satuan militer mereka, NPA, sudah mengklaim 30.000 nyawa.

Pemberontak yang mengatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan senjata meski perjanjian damai tercapai sudah menuduh militer negara tersebut menggunakan perang narkoba Duterte sebagai alasan untuk meningkatkan operasi di daerah pemberontak meski berlangsung gencatan senjata.

Mereka dengan tegas melawan kehadiran militer AS di Filipina dan sudah menewaskan personel militer AS yang ditempatkan di negara tersebut.

Sejak 1980an, mereka sudah melakukan diskusi dengan pemerintahan Filipina, namun perjanjian damai masih sulit dicapai.

Topik terkait