ISIS 'rekrut pengungsi anak dan memasukkan mereka ke Eropa'

Pengungsi anak Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengungsi anak yang tak punya pendamping orang dewasa, seperti di Suriah ini, 'menjadi sasaran perekrutan' kelompok-kelompok ekstrem.

Kelompok-kelompok ekstrem seperti ISIS merekrut pengungsi anak yang tak punya pendamping orang dewasa di zona-zona konflik, kata lembaga kajian di Inggris.

Menurut lembaga Quilliam Foundation, yang banyak melakukan kajian tentang ekstremisme, kelompok seperti ISIS membayar para penyelundup untuk memasukkan anak-anak yang sudah direkrut masuk ke Eropa.

Laporan yang diterbitkan Quilliam Foundation menyebutkan bahwa kelompok-kelompok seperti ISIS aktif di kamp-kamp pengungsi di sejumlah negara.

Mereka membagikan makanan dan mencoba 'membeli kesetiaan' anak-anak muda yang putus harapan, dengan cara membiayai perjalanan mereka ke Eropa.

"Anak-anak dan remaja yang diindoktrinasi dan direkrut oleh ISIS adalah sumber daya yang penting (bagi kelompok-kelompok esktrem)," kata laporan Quilliam Foundation.

Para peneliti Quilliam Foundation mengatakan bahwa ketika anak-anak berusia di bawah 18 tahun tiba di Inggris, ratusan di antaranya hilang dari sistem resmi yang mestinya menampung dan merawat mereka.

Ada beberapa faktor yang membuat mereka tak berada di institusi pemerintah, mulai dari kabur karena khawatir tak mendapat suaka, menjadi korban penculikan, hingga jatuh ke tangan kelompok-kelompok yang ingin mengeksploitasi, baik secara seksual maupun ekonomi.

Serang sasaran di Barat?

Data yang dikumpulkan para peneliti pada 2015 memperlihatkan, lebih dari 340 anak menghilang antara periode Januari hingga September, sementara pada September hingga akhir 2015 tercatat 132 anak tak diketahui keberadaannya.

Hak atas foto AFP
Image caption Pejabat militer Barat meyakini ISIS 'menyiapkan anak dan remaja untuk menyerang sasaran di Eropa'.

Persoalan ini sudah masuk dalam agenda pembahasan pemerintah Inggris dan rencananya Mei nanti akan diumumkan solusi untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah memperbanyak akomodasi atau keluarga yang bersedia menampung dan mengadopsi mereka.

Dengan langkah-langkah seperti ini diharapkan jumlah anak tanpa pendamping orang dewasa yang hilang dari sistem resmi akan jauh berkurang.

Sebelumnya, pejabat keamanan Amerika Serikat mengatakan bahwa ISIS diyakini menyediakan aplikasi dan material lain bagi anak-anak dengan maksud 'menyiapkan generasi baru teroris'.

Dikatakan, ISIS mendirikan berbagai kios internet di wilayah-wilayah yang mereka kuasai di Irak dan Suriah, yang bisa dipakai oleh anak-anak untuk mengakses aplikasi dan situs-situs internet, baik untuk belajar bahasa Arab maupun 'ideologi ISIS'.

Di bagian pelajaran bahasa Arab, ada foto tank, senjata, dan ciri khas kota di Eropa dan Amerika.

"Apa yang dilakukan ISIS ini sungguh sangat tercela, mereka menyiapkan anak-anak untuk melakukan serangan di Barat... sasarannya adalah tempat-tempat seperti Patung Liberty, Big Ben, dan Menara Eiffel," kata John Dorrian, perwira menengah militer AS yang terlibat dalam perang melawan ISIS di Timur Tengah.

"Anak-anak diindoktrinasi. Mestinya mereka belajar bahasa Arab, tapi bahasa dan foto yang digunakan sangat terkait dengan kekerasan dan ekstremisme. Anak-anak ini akan diberi penghargaan bila mengatakan mau melakukan serangan di Barat," jelas Dorrian seperti dikutip media Inggris, The Independent.

Topik terkait

Berita terkait