Marak kembali pertarungan antara militer Filipina dan pemberontak Komunis

Filipina, Duterte Hak atas foto Reuters
Image caption Selain menghentikan gencatan senjata, Presiden Duterte juga menghentikan perundingan damai dengan kelompok pemberontak.

Pertempuran antara militer Filipina dengan kelompok pemberontak Komunis, marak kembali di beberapa tempat di Filipina Selatan.

Seorang gerilyawan pemberontak tewas dalam kontak senjata terbaru,

Presiden Rodrigo Duterte menghentikan gencatan senjata enam bulan dengan sejumlah kelompok pemberontak, Sabtu (04/02), dan juga perundingan damai yang mestinya berlangsung 22-25 Februari di Norwegia.

Salah seorang penasihat pemberontak, Luis Jalandoni, mengatakan mereka ingin pembicaraan damai dilanjutkan untuk mengakhiri pemberontakan selama 48 tahun yang sudah menewaskan sekitar 40.000 orang.

"Kami berpendapat perundingan damai tetap mungkin walau tidak ada gencatan senjata," katanya dalam wawancara pertelepon dengan Radio DZMM.

Hak atas foto AFP/JAY DIRECTO
Image caption Pemberontakan di Filipina sudah berlangsung selama 48 tahun dan diperkirakan menewaskan 40.000 orang.

Dia juga menuduh pemerintah melanggar gencatan senjata dengan mengerahkan pasukan di 500 kampung-kampung di seluruh negara dan meneruskan operasi pengamatan, yang memicu pada pertarungan.

Sebelum Presiden Duterte menghentikan gencatan senjata, masing-masing menuding pihak lainnya yang melanggar kesepakatan.

Sementara salah seorang pemimpin pemberontak, Ariel Arbitrario -yang dibebaskan pemerintah bersama belasan gerilyawan lain tahun lalu- sudah ditangkap kembali di salah satu pos pemeriksaan tentara di Davao City.

"Dia ditangkap berdasarkan pernyataan Presiden Duterte untuk menangkap kembali semua yang dibebasakan sementara untuk ikut dalam perundingan damai," jelas juru bicara militer, Kapten Rhyan Batchar, kepada para wartawan, Senin (06/02).

Topik terkait

Berita terkait