Wilders, politikus anti-Muslim, endus kemenangan di pemilu Belanda

Almere
Image caption Kota Almere mulai ramai sejak 1970-an dan dikenal sebagai salah satu basis pendukung Wilders.

Ketika politikus populis Geert Wilders mengusung janji membuat Belanda kembali menjadi negara besar (Make the Netherland Great Again), warga di Almere menyambutnya dengan antusias.

"Orang terlalu mudah datang dan menetap di sini," kata Joost, pedagang berusia 60 tahun yang biasa berjualan di salah satu pasar di Almere, kota paling muda di Belanda.

"Terlalu banyak pendatang dari Turki dan Maroko. Mereka adalah pendatang ekonomi. Saya punya tiga anak, di negara seperti apa mereka akan tumbuh nantinya?"

Belanda menggelar pemilu pada 15 Maret dan partai yang dipimpin Wilders, Partai untuk Kebebasan (PVV), mungkin bisa meraih kursi terbanyak.

Almere tadinya adalah kawasan rawa hingga 1960-an sebelum menjadi kawasan urban dan menjadi pilihan bagi warga yang tidak ingin tinggal di kota terdekatnya, Amsterdam. Selama beberapa tahun ini Almere menjadi basis pendukung Wilders.

Sekitar 30% penduduk Almere adalah pendatang dan proporsi ini bisa dilihat di pasar Almere. Di sini tercium bau masakan Suriname dan terlihat pula orang-orang yang yang menjual kerudung aneka warna.

Di balik kios yang menjual jaket musim dingin, seorang perempuan bernama Ria mendukung keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa dan menyatakan mestinya Belanda mengambil langkah serupa.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wilders ingin melarang jilbab, Alquran, dan menutup masjid di Belanda.

Ia juga mengeluhkan tetangga Muslimnya yang menolak berjabat tangan. "Pada tahun baru saya menyalaminya. Ia menolak dengan mengatakan tak bersalaman dengan perempuan non-Muslim," ungkap Ria.

Wilders sering digambarkan sebagai Trump-nya Belanda karena sama-sama menentang imigrasi Muslim, tak percaya dengan media, dan menggilai Twitter.

___________________________________________________________________

Apa yang diinginkan Wilders:

  • Menolak imigran dan pencari suaka dari negara Muslim
  • Tak boleh mengenakan jilbab di tempat-tempat umum
  • Melarang Alquran, menutup masjid dan madrasah
  • Keluar dari Uni Eropa
  • Mendeportasi orang-orang yang memegang kewarganegaraan ganda
  • Pajak pendapatan yang lebih rendah, pensiun pada usia 65 tahun

____________________________________________________________________

Tapi Ria mengatakan tak akan memilih Wilders karena tawaran kebijakan 'yang terlalu ekstrem'.

"Ketika Trump memberlakukan pembatasan imigrasi, Wilders mengatakan Belanda harus menerapkan kebijakan serupa. Saya berpendapat, itu gila dan itu bukan kebijakan yang tepat," kata Ria.

Krisis keuangan sudah berlalu di Belanda yang membuat ekonomi tak lagi menjadi tema utama pemilu. Diperkirakan, imigrasi akan menyita perhatian pemilih saat digelar kampanye.

Perdana Menteri Mark Rutte memulai kampanye dengan mengirim surat terbuka, yang isinya menyatakan orang-orang yang tak setuju dengan nilai-nilai dasar atau budaya Belanda lebih baik meninggalkan negara tersebut.

Kampanye dikecam kelompok-kelompok hak asasi manusia yang menuduh PM Rutte mengabaikan konstitusi. Kolumnis surat kabar, Folkert Jensma, sementara itu mengatakan khawatir negaranya kehilangan 'kompas moral'.

"Dalam pandangan saya, politikus mestinya harus berhati-hati dan harus jujur. Apakah kekhawatiran mereka didasarkan atas realitas di lapangan? Kalau kita didorong masuk ke situasi di mana kita merasa takut, kita mungkin akan mendapatkan presiden seperti Donald Trump," kata Jensman.

Tidak berbaur

Image caption Linda mengatakan warga di daerahnya saling curiga karena tak kenal satu sama lain.

Yang juga dikenal sebagai basis pendukung Wilders adalah Duindorp di pinggiran Den Haag. Di sini 90% berkulit putih dan 35% mencoblos PVV dan pemilu terakhir.

Linda, salah seorang warga, menggambarkan Duindorp sebagai desa nelayan yang dimasuki orang-orang luar. Ia mengatakan warga asli dan pendatang tidak berbaur.

"Mereka saling curiga karena tidak kenal satu sama lain," ujar Linda yang membuat kaget keluarga dan orang-orang terdekatnya ketika memutuskan menikahi pemuda Muslim dari Maroko bernama Mostfa.

Linda dan suaminya mengkhawatirkan diskriminasi dan mempertimbangkan menggunakan nama keluarga dari pihak Linda untuk anaknya agar mencegah prasangka buruk.

Mostafa bekerja di dinas militer Belanda dan menegaskan Islam tak ada masalah dengan budaya Belanda.

Soal kebijakan Wilders, Mostafa mengatakan tak bisa sepenuhnya dipaksakan untuk menjadi kebijakan resmi. "Dan saya juga yakin bahwa rakyat Belanda, pada dasarnya, adalah orang-orang yang baik," kata Mostafa.

PVV mungkin saja menang pemilu pada 15 Maret namun kalau pun menang Wilders tak secara otomatis akan menjadi perdana menteri. Sistem politik Belanda selalu menghasilkan pemerintahan koalisi dan hampir semua partai sudah menegaskan tak ingin bekerja sama dengan PVV-nya Wilders.

Tapi jika para politikus liberal mengadopsi platformnya yang ekstrem, Wilders bisa mengklaim kemenangan meskipun kenyataannya kalah di pemilu.

Topik terkait

Berita terkait