Protes besar, apa beda di Jakarta dan di Rumania?

Rumania Hak atas foto AP
Image caption Ratusan ribu orang di Rumania turun ke jalan, memprotes dekrit yang dianggap melindungi koruptor.

Sama seperti Jakarta, beberapa kota di Rumania, terutama di ibu kota Bukares, mengalami demonstrasi besar-besaran. Yang terbesar antara lain aksi pada Minggu (05/02) malam yang diperkirakan diikuti oleh tak kurang dari setengah juta orang--unjuk rasa terbesar sejak jatuhnya komunisme.

Berikut hal yang perlu Anda ketahui soal perbandingan aksi massa di Jakarta dan Rumania:

1. Penyebab aksi

Demonstrasi di Jakarta dan di Rumania sama-sama didorong oleh ketidakpuasan masyarakat.

Di Jakarta, melalui aksi 4 November 2016, 2 Desember 2016, dan 12 Februari 2017, peserta aksi ingin pemerintah bertindak tegas dalam menangani kasus dugaan pelecehan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Peserta dan penyelenggara juga ingin aksinya menjadi 'pengawal' sehingga kasus Ahok ini ditangani secara adil.

Bagaimana dengan di Rumania?

Pemicu utamanya adalah dekrit pemerintah koalisi pada akhir Januari yang pada dasarnya mengampuni dan tak melakukan proses hukum terhadap para pejabat pemerintah yang terkena kasus korupsi, jika kerugian yang dialami negara kurang dari US$48.500 atau sekitar Rp645 juta.

Dekrit ini dikeluarkan tanpa meminta masukan dari parlemen dan pada dasarnya akan menghentikan semua kasus korupsi yang saat ini tengah dilakukan, membebaskan para pejabat yang mendekam di penjara (jika kasusnya berada di bawah US$48.500), dan mencegah penyelidikan korupsi di masa depan.

Pemerintah koalisi pimpinan PM Sorin Grindeanu dari Partai Sosial Demokrat (PSD) yang berhaluan kiri beralasan dekrit tersebut sudah sesuai dengan konstitusi dan secara khusus juga ditujukan untuk mengurangi jumlah tahanan dan narapidana di lembaga pemasyarakatan.

Namun, banyak yang melihat dekrit ini sebagai upaya melindungi para pejabat negara yang korup. Salah satu yang diuntungkan dari dekrit ini adalah presiden PSD, Liviu Dragnea, yang tengah menghadapi kasus dugaan korupsi sebesar US$26.000. Kasus ini pula yang menyebabkan dirinya tak bisa menjadi PM.

Tekanan massa membuat pemerintah mencabut dekrit, tapi publik bergeming dengan melanjutkan protes besar-besaran, mendesak PM dan seluruh anggota kabinet mundur.

2. Anak-anak boleh ikut

Hak atas foto AP
Image caption Banyak anak-anak yang diajak serta untuk mendapatkan 'pelajaran demokrasi'.

Peraturan di Indonesia tak membolehkan anak di bawah umur untuk mengikuti aksi unjuk rasa atau kegiatan politik lain seperti kampanye karena dianggap sebagai salah satu bentuk eksploitasi anak.

Di Rumania, aksi-aksi memprotes pemerintah banyak diikuti anak-anak, terutama dalam protes yang diselenggarakan pada akhir pekan. Para orang tua yang ditemui BBC di Bukares mengatakan sengaja membawa anak-anak mereka untuk mengajari mereka demokrasi.

"Saya ingin memberi tahu anak-anak saya, bahwa rakyat punya suara. Suara rakyat bisa mendorong perubahan. Mereka bisa berjuang demi nilai-nilai yang mereka yakini," kata seorang ibu muda di depan gedung pemerintah di Bucharest kepada wartawan BBC, Steve Rosenberg.

Ia membawa dua anaknya yang masih kecil dan di tengah musim dingin, keduanya mengenakan jaket tebal sambil membawa bendera Rumania.

Banyak anak-anak lain berada di sini yang meneriakkan kata-kata 'Pencuri, pencuri' yang mengacu pada keputusan pemerintah yang dianggap melindungi para koruptor.

Seorang ibu lain mengatakan bahwa anak-anak perlu diajak berdemonstrasi karena masa depan mereka dipertaruhkan.

"Kami harus memastikan bahwa anak-anak ini memiliki masa depan yang lebih baik," katanya.

3. Makin malam makin ramai

Hak atas foto AP
Image caption Protes juga digelar pada malam hari, di tengah temperatur yang sangat dingin.

Aparat keamanan di Indonesia biasanya akan melarang unjuk rasa pada malam hari karena dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban.

Di Rumania, sama halnya dengan banyak negara di Eropa, aksi unjuk rasa menentang pemerintah digelar juga pada malam hari, untuk memberi kesempatan para karyawan yang bekerja pada siang hari untuk bergabung.

Di Bukares dan di banyak kota lain di negara tersebut, temperatur yang dingin pada Januari dan Februari tak menghalangi mereka menyuarakan suara.

Pada satu kesempatan, para peserta aksi menyalakan telepon genggam mereka, yang kalau dilihat dari atas seperti lautan lampu kecil yang tampak cemerlang. Foto-foto aksi dengan telepon genggam ini menjadi viral di media sosial.

4. Serius tapi juga menyenangkan

Selain memanfaatkan lampu atau cahaya dari layar telepon genggam, para peserta juga membawa terompet untuk menyemarakkan suasana.

Atribut lain yang mereka bawa tentu saja adalah aneka spanduk dan plakat yang sering kali disampaikan dengan nada lucu meski isinya tentu saja serius. Ada juga membawa boneka dengan wajah para pejabat pemerintah atau presiden PSD.

Berbagai protes digalang melalui media sosial dan tentu ketika protes berlangsung banyak atribut lucu yang menjadi bintang.

Sejauh ini aksi-aksi protes berjalan tertib tanpa gangguan.

Topik terkait

Berita terkait