Swiss lakukan pemungutan suara terkait aturan kewarganegaraan

Orang berjalan dekat poster "Komite melawan jalan mudah mendapat kewarganegaraan" yang ada di dekat stasiun kereta Hauptbahnhof, Zurich, 11 Januari 2017 Hak atas foto Reuters
Image caption Penentang proposal yang baru ini mengatakan bahwa reformasi aturan bisa menyebabkan kewarganegaraan yang tidak terkontrol.

Pemilih di Swiss akan melakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah aturan kewarganegaraan yang ketat bisa dikurangi.

Orang yang lahir di Swiss tak dijamin mendapat kewarganegaraan dan penduduk non-Swiss biasanya harus menunggu sampai 12 tahun sebelum bisa mengajukan permohonan kewarganegaraan.

Selain itu, ada juga proses tes dan wawancara pemerintah, dan prosesnya bisa menjadi mahal.

Proposal yang baru akan membolehkan imigran generasi ketiga untuk menghindari sebagian birokrasi itu.

Hal ini akan berdampak bagi mereka yang lahir di Swiss, yang orangtua dan kakek-neneknya juga tinggal di negara itu secara permanen.

Pendukung rencana tersebut mengatakan bahwa konyol untuk meminta orang yang sudah lahir dan tinggal di Swiss seumur hidupnya membuktikan diri mereka sudah berintegrasi sepenuhnya.

Meski begitu, penentang rencana tersebut mengatakan bahwa hal ini bisa berdampak pada semua penghuni non-Swiss - sekitar 25% penduduk - untuk dengan mudah mendapat kewarganegaraan.

Poster penentang yang menampilkan perempuan menggunakan burka menunjukkan bahwa proposal tersebut bisa berdampak pada "Islamisasi" seluruh negara.

Proses penerimaan aplikasi kewarganegaraan, yang ditujukan untuk memastikan agar warga baru terintegrasi dengan baik, termasuk wawancara yang dilakukan oleh balai kota. Pertanyaan yang diajukan termasuk permintaan untuk menyebut nama keju lokal serta pegunungan.

Mereka yang mendukung sistem yang berlaku sekarang juga mengatakan bahwa prosedur yang ketat akan lebih baik dibandingkan sistem anonim di Prancis dan Jerman.

Dalam 30 tahun terakhir, tiga upaya untuk menyederhanakan aturan ini gagal. Kali ini, polling menunjukkan bahwa hasil pemungutan suara akan tipis. Kota-kota besar mendukung ide ini, sementara daerah pedesaan yang lebih konservatif menolaknya.

Topik terkait

Berita terkait