Korea Utara akan tolak hasil pemeriksaan jasad Kim Jong-nam

televisi Korsel tengan Kom Hak atas foto AFP
Image caption Kim Jong-nam awalnya dianggap calon pemimpin Korea Utara, namun belakangan bersikap kritis terhadap rezim Kim Jong-un, adik tirinya.

Korea Utara menegaskan akan menolak hasil pemeriksaan terhadap jasad Kim Jong-nam, dan mengecam Malaysia yang melakukan pemeriksaan jenazah tanpa izin mereka.

Ini untuk pertama kalinya Korea Utara berkomentar terkait tewasnya Kim Jong-nam, kakak tiri Kim Jong-un, pemimpin negeri tertutup itu.

Sementara itu, warga Indonesia yang diduga terlibat, Siti Aisyah mengaku melakukannya karena mengira tindakan itu sekadar acara lucu-lucuan televisi.

Plot politik

Dalam pernyataan kepada wartawan di Kuala Lumpur, duta besar Korea Utara untuk Malaysia, Kang Choi meminta agar Malaysia segera menyerahkan jenazah Kim Jong-nam.

Ia menegaskan, negerinya tidak memberikan persetujuan pada pemeriksaan post-mortem terhadap jenazah Kom Jong-sam, dan secara tegas akan menolak hasil-hasil pemeriksaannya.

"Kami secara tegas menyerukan dan meminta Malaysia untuk tidak terjerat dalam plot politik dari kekuatan-kekuatan yang memusuhi DPRK (Republik Rakyat Demokratik Korea), yang ingin merusak citra republik kami, dan segera menyerahkan jasadnya tanpa syarat," kata Duta Besar Kang Chol.

Hak atas foto AFP
Image caption Pernyataan Kang Chol, dubes Korut di Malaysia, merupakan komentar pertama pihak Korut sejak pembunuhan hari Senin.

Malaysia sendiri mengatakan sebelumnya, mereka tak akan menyerahkan jenazah sebelum mendapat sampel DNA dari kerabat Kom Jong-nam.

Dinas inteljen Korea menuduh Korea Utara berada di balik pembunuhan Kim Jong-nam. Menurut mereka, Pyongyang sudah berusaha membunuhnya sejak bertahun-tahun, namun Kom Jong-nam dilindungi oleh Cina.

Seorang pemilik restoran Korea di Kuala Lumpur, kepada BBC mengatakan, Kim Jong-sam beberapa kali mengaku kepadanya, diliputi ketakutan karena agen-agen Korea Utara mengincar untuk membunuhnya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Sejumlah dugaan muncul, Korea Utara terlibat dalam kematian Jong-nam.

Kim Jong-nam, kakak pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tewas setelah mengalami serangan yang diduga peracunan, saat ia sedang menunggu saat naik pesawat di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, Senin lalu.

Polisi sudah menangkap tiga orang: Aisyah, warga Indonesia asal Serang, seorang perempuan Vietnam, dan seorang pria Malaysia yang disebut-sebut pacar Siti Aisyah -sebelumnya disebut Siti Aishah.

Dikira acara kelakar TV

Sementara itu, Siti Aisyah, perempuan warga Indonesia mengaku bersedia melakukan tindakan yang ternyata pembunuhan terhadap kakak pemimpin Korea Utara, karena dikiranya itu acara lucu-lucuan televisi.

Kapolri Tito Karnavian mengungkapkan hal itu berdasarkan informasi dari sejawatnya, Kepolisian Malaysia.

Hak atas foto REX/Shutterstock
Image caption Salah seorang tersangka dalam kasus pembunuhan Kim.

Menurut polisi, Kim Jong-nam tewas setelah disemprot wajahnya dengan cairan beracun oleh dua perempuan itu.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, Siti mengaku kepada polisi Malaysia, bahwa ia memang dibayar untuk melakukan hal itu, namun ia bersedia saat itu karena mengira hal itu merupakan acara lucu-lucuan untuk televisi.

Disebutkan Tito, informasi itu diperolehnya dari para perwira polisi Malaysia. Disebutkan, sebelumnya Siti dan perempuan Vietnam itu sudah pernah melakukan hal serupa untuk acara lucu-lucuan televisi, dan mereka mendapatkan imbalan 'beberapa dolar.'

Dalam aksi prank atau menipu orang sekadar untuk lucu-lucuan itu, kata Tito, "satu perempuan nutup mata (orang yang disasar) yang satunya lagi menyemprotkan sesuatu," kata Tito kepada wartawan yang mengerumuninya di Kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Jumat (17/2).

Itu sudah dilakukan beberapa kali oleh Siti Aisyah dan perempuan Vietnam itu .

"Terakhir, (sasarannya adalah) Kim Jong-Nam. Di semprotannya kali ini ternyata ada bahan berbahaya," sebut Tito.

Namun Siti Aisyah ia tidak menyadari apa yang terjadi.

"Dia tidak menyadari bahwa itu merupakan upaya pembunuhan oleh pihak yang diduga sebagai agen asing," kata Tito.

Berita terkait