Politikus Belanda, Geert Wilders, sebut orang Maroko 'sampah'

wilders, belanda Hak atas foto EPA
Image caption Wilders memulai kampanye di Spijkenisse, dekat Rotterdam, pada 18 Februari 2017.

Pemimpin Partai untuk Kebebasan (PVV) di Belanda, Geert Wilders, memulai kampanye pemilihan umum dengan menyebut banyak orang Maroko 'sampah'.

Komentar Wilders mengemuka di Spijkenisse, kantung kekuatan PVV dengan warga dari etnis yang beragam dekat Rotterdam, pada Sabtu (18/02).

"Ada banyak orang Maroko sampah di Belanda yang membuat jalan-jalan tidak aman. Jika Anda ingin menguasai kembali negara Anda, buatlah Belanda untuk rakyat Belanda lagi, maka Anda bisa memilih hanya untuk satu partai," kata Wilders, yang menekankan "tidak semuanya sampah".

Ucapan Wilders ditentang sekelompok demonstran yang juga muncul di Spijkenisse.

"Hal-hal yang akan dia perbuat membuat saya sangat, sangat takut," kata Emma Smeets, sebagaimana dikutip kantor berita Associated Press.

"Banyak orang sudah terbiasa dan mereka tak lagi memprotes. Saya pikir penting untuk menyuarakan suara Anda, bahwa Anda tidak sepakat dengan keadaan yang terjadi, juga berinteraksi langsung dengan orang-orang yang memilih dia," tambah Smeets.


Yang Wilders inginkan:

Hak atas foto Getty Images
Image caption Geert Wilders diajukan ke meja hijau pada 2016 lalu.
  • "Mendeislamisasi Belanda"—membuat Belanda tak lagi menerima imigran atau pencari suaka dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim.
  • Melarang jilbab di tempat umum, melarang ungkapan khas umat Muslim yang melanggar ketertiban umum
  • Melarang Al-Quran, menutup masjid-masjid, dan sekolah-sekolah Islam.
  • Belanda keluar dari Uni Eropa
  • Mendeportasi pelaku tindak kriminal yang memiliki dwi-kewarganegaraan
  • Menurunkan pajak pemasukan, membatasi usia pensiun pada 65 tahun, memangkas biaya perawatan kaum jompo

Komentar Wilders mengenai orang Maroko dilontarkan sebelum Belanda menggelar pemilihan umum pada 15 Maret 2017 untuk memilih 150 anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

PVV pimpinan Wilders saat ini menduduki 12 dari 150 kursi. Namun, rival terdekatnya, Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) pimpinan Perdana Menteri Mark Rutte, tampak lebih unggul dalam jajak pendapat terkini.

Situasinya bakal lebih sulit bagi PVV, karena kalaupun PVV meraih banyak suara, partai tersebut sulit membentuk koalisi mengingat partai-partai besar mengatakan tidak ingin bekerja sama dengan Wilders.

Image caption Mostafa (kiri) adalah salah seorang warga Belanda keturunan Maroko. Berdasarkan sensus 2011, ada lebih dari 167.000 warga kelahiran Maroko di Belanda.

Ucapan kontroversial

Wilders bukan sekali ini mengutarakan ucapan kontroversial. Tahun lalu, dia disidang selama tiga pekan setelah kepolisian menerima 6.400 pengaduan tentang pernyataannya dalam pemilihan daerah di Den Haag.

Dalam pawai politik, dia bertanya apakah para pendukungnya ingin "warga Maroko lebih sedikit atau lebih banyak di kota Anda dan di Belanda?"

Saat kerumunan pendukungnya berteriak "Lebih sedikit! Lebih sedikit!", Wilders tersenyum dan mengatakan "Kita akan mengurusnya."

Pada persidangan, sejumlah warga Belanda keturunan Maroko mengatakan komentar Wilders membuat mereka merasa seperti 'warga kelas tiga'. Wilders kemudian dihukum dengan vonis menghina kelompok warga dan memicu diskriminasi.

Berdasarkan sensus 2011, ada lebih dari 167.000 warga kelahiran Maroko di Belanda. Jumlah ini menjadikan warga Belanda kelahiran Maroko sebagai kelompok warga non-Uni Eropa terbesar di negara tersebut. Jumlah ini diyakini bertambah besar jika menghitung warga keturunan Maroko dari generasi kedua dan ketiga yang lahir di Belanda.

Topik terkait

Berita terkait