Tanggapi pidato Trump, Kemenlu Swedia sayangkan 'informasi tidak akurat'

Swedia, Trump
Image caption Presiden Trump mengatakan mengutip tayangan dokumentasi di stasiun TV Fox News tentang peningkatan kriminalitas di Swedia.

Menteri Luar Negeri Swedia, Margot Wallstrom, mengatakan para diplomatnya akan terus bekerja untuk menghadapi beredarnya kekeliruan informasi tentang Swedia.

Hal itu ditegaskannya setelah Presiden Donald Trump dalam pidatonya, Sabtu (18/02), merujuk serangan teroris di Swedia sehari sebelumnya.

"Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Swedia akan terus bekerja tidak henti-hentinya untuk menyebarkan citra yang akurat dan seimbang tentang Swedia. Sayangnya, kita melihat kecenderungan umum dalam informasi yang tidak akurat," seperti tertulis dalam pernyataan resminya, Senin (20/02).

Sebelumnya lewat pesan Twitter, Wallstrom mengatakan demokrasi dan diplomasi membutuhkan 'penghormatan pada sains, fakta, dan media'.

Pidato Trump membuat orang Swedia bingung karena tidak ada yang terjadi pada hari yang dimaksud Trump. Belakangan dia mengaku mengutip tayangan dokumentasi di stasiun TV Fox News tentang peningkatan kriminalitas di Swedia.

Hak atas foto Twitter
Image caption Chelsea Clinton ikut menyindir Presiden Trump yang merujuk 'serangan teroris' di Swedia.

Sementara Perdana Menteri Swedia, Stefan Lofven, menggunakan konferensi pers bersama Gubernur Jenderal Kanada, David Johnston, yang sedang berkunjung ke Stockholm, Senin (19/02) untuk menanggapinya.

"Kita memiliki kesempatan, kita menghadapi tantangan, kita bekerja untuk mengatasinya setiap hari. Namun saya pikir kita semua harus bertanggung jawab dalam menggunakan fakta dan mmeriksa setiap informasi sebelum kita sebarkan."

Hak atas foto Twitter
Image caption 'Dia baru menghisap apa?' tanya mantan PM Swedia, Carl Bildt.

Presiden Trump dalam pidato di hadapan para pendukungnya di Florida mengatakan, "Anda lihat apa yang terjadi di Jerman, dan lihat yang terjadi tadi malam di Swedia. Swedia, siapa yang percaya ini. Swedia. Mereka menerima dalam jumlah besar. Mereka menghadapi masalah yang tidak pernah mereka pikirkan."

Komentar itu mendorong sejumlah orang menggunakan Twitter untuk menyindir Presiden Trump, antara lain mantan PM Swedia, Carl Bildt dan Chelsea Clinton, putri mantan calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton,

Topik terkait

Berita terkait