Donald Trump, Erdogan, Duterte, pemimpin 'berbahaya bagi dunia'?

Menurut Amnesty, retorika kampanye Donald Trump sanga memecah belah dan berbahaya, dan kini malah diwujudkan. Hak atas foto Reuters
Image caption Menurut Amnesty, retorika kampanye Donald Trump sangat memecah belah dan berbahaya, dan kini malah diwujudkan.

Para politikus, khususnya Donald Trump, yang telah menggunakan retorika yang memecah-belah dan merendahkan martabat manusia lain, menciptakan dunia yang lebih terbelah dan berbahaya, kata kelompok hak asasi Amnesty International.

Laporan tahunan Amnesty menyebut Presiden Donald Trump sebagai contoh dari 'politik kemarahan dan memecah belah.'

Mereka juga menunjuk sejumlah pemimpin lain, seperti Presiden Turki Recep tayyip Erdogan, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte Filipina, yang dikatakan menggunaklan narasi ketakutan, penuh tudingan dan memecah belah.

Amnesty juga mengatakan banyak pemerintahan dunia mengeksploitasi pengungsi untuk kepentingan politik.

Laporan yang mencakup 159 negara, menyebut terjadinya peningkatan pernyataan kebencian di Amerika Serikat dan Eropa yang diarahkan pada pengungsi dan mengatakan gaungnya akan berakibat pada meningkatnya serangan atas dasar ras, jenis kelamin, kebangsaan dan agama.

Amnesty mengkritik negara-negara yang menurut mereka, dulunya merupakan sebagai pelopor hak asasi di seluruh dunia, kini justru mengalami kemunduran dalam hal HAM.

"Alih-alih memperjuangkan hak-hak rakyat, begitu banyak pemimpin yang mengadopsi agenda yang merendahkan manusia lain untuk kepentingan politik," kata Salil Shetty, Sekretaris Jenderal Amnesty International, dalam sebuah pernyataan.

"Batas-batas tentang apa yang bisa diterima telah bergeser. Politisi tanpa malu-malu dan secara aktif melegitimasi segala macam retorika dan kebijakan penuh kebencian berdasarkan identitas orang: mereka menunjukkan kecenderungan misoginis (kebencian pada perempuan), rasisme dan homofobia."

Hak atas foto AFP
Image caption Amnesty mengecam sikap abaui dunia dalam menangani pengungsi.

Kelompok ini secara khusus mengacu pada perintah eksekutif Trump bulan lalu yang melarang masuknya pengungsi dan imigran dari tujuh negara mayoritas Muslim.

Menurut mereka, Trump mewujudkan "retorika penuh kebencian xenophobia pra-pemilu" menjadi tindakan dengan menandatangani ketetapan itu.

Presiden AS, yang baru-baru mengatakan ia orang 'yang paling kurang rasis' dan 'paling kurang anti-Semit,' diagendakan untuk meluncurkan perintah eksekutif baru pekan ini.

Amnesty juga menyebutkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban sebagai pemimpin yang menggunakan retorika 'kita versus mereka.'

"Tahun 2016 adalah tahun ketika penggunaan narasi sinis 'kita vs mereka' yang penuh tudingan, kebencian dan ketakutan, jadi begitu menonjol di seluruh dunia dalam tingkat yang tidak pernah tampak sejak 1930-an," tampah Shetty, menyebut tahun ketika Adolf Hitler naik ke tampuk kekuasaan di Jerman.

"Sebuah tatanan dunia baru yang menganggak hak asasi manusia sebagai penghalang kepentingan nasional membuat kemampuan untuk mengatasi kekejaman massal sangat rendah, membuka pintu bagi pelanggaran yang dulu terjadi pada zaman paling kelam dari sejarah manusia."

Hak atas foto Reuters/AFP
Image caption Amnesty juga menyebutkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban sebagai pemimpin yang menggunakan retorika 'kita versus mereka.'

v

Topik terkait

Berita terkait