Kasus bunuh diri di AS turun sejak pernikahan sejenis diterapkan

Sesama jenis Hak atas foto AP
Image caption Pada bulan Juni 2015, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa ketentuan pernikahan sesama jenis menjadi hak negara bagian.

Sebuah penelitian menemukan, tingkat percobaan bunuh diri di kalangan remaja SMA di Amerika Serikat turun di negara yang menerapkan hukum pernikahan sesama jenis.

Kebijakan pernikahan sesama jenis ternyata seiring dengan turunnya laporan berbagai percobaan bunuh diri sebesar 7%, menurut analisis data yang dilakukan selama 17 tahun.

Penurunan itu terlihat jelas di antara kaum 'minoritas seksual' - yang melihat adanya penurunan upaya bunuh diri sebesar 14%.

Diisimpulkan bahwa aturan pernikahan sesama jenis memiliki 'konsekuensi kesehatan mental.'

Namun laporan itu juga menyebutkan bahwa mereka tidak bisa mengatakan secara persis bagaimana kebijakan tentang pernikahan sesama jenis mengurangi upaya bunuh diri - namun didapatkan bukti adanya keterkaitan.

Bunuh diri adalah penyebab terbesar nomor dua kematian di antara remaja usia 15-24 tahun di Amerika Serikat, menurut data laporan ini.

Sekitar 29% dari kaum gay, lesbian, dan biseksual di kalangan siswa-siswa SMA melaporkan setidaknya satu upaya bunuh diri dalam 12 bulan sebelum survei - dibandingkan dengan remaja heteroseksual yang jumlahnya hanya 6%.

Penelitian baru ini membandingkan perubahan tingkat bunuh diri dari 32 negara bagian yang mengizinkan pernikahan sesama jenis - sebelum dan sesudah kebijakan itu diterapkan - dengan 15 negara bagian yang tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis.

Seorang peneliti proyek ini, Julia Raifman, mengungkapkan penurunan upaya bunuh diri, khususnya di kalangan lesbian, gay, dan remaja biseksual, itu menarik, karena "siswa-sisa SMA tidak mungkin menikah dalam waktu dekat, sehingga penelitian ini menunjukkan bahwa hal itu tidak terkait langsung dengan pernikahan."

"Kemungkinan ini adalah soal memiliki hak yang sama, atau memiliki lebih banyak harapan untuk masa depan, yang memicu hasil ini," katanya.

Image caption Bunuh diri adalah penyebab terbesar nomor dua kematian di antara remaja usia 15-24 tahun di Amerika Serikat,

Dalam pengantar yang menyertai makalah dalam Journal of American Medical Association Paediatrics, Mark Hatzenbuehler dari Universitas Columbia menulis bahwa "stigma merupakan salah satu faktor risiko yang paling sering menjadi hipotesa".

Namun, tulisnya, penelitian tentang stigma dan kesehatan mental hampir secara selalu berada pada tingkat pribadi, dan bukan memandang pada faktor-faktor di masyarakat luas.

"Hasil tersebut benar-benar menyoroti fakta bahwa iklim hukum di sekitar remaja-remaja LGB (lesbian, gay, biseksual) sangat perlu mendapat perhatian yang lebih besar," tambahnya.

Studi ini menganalisis data pada 762.678 remaja dari lembaga yang menangani perilaku remaja Youth Risk Behaviour Surveillance System - sebuah survei skala besar AS yang dilakukan setiap dua tahun.

Bagaimanapun, data laporan tersebut tergantung pada laporan upaya bunuh diri dari remaja itu sendiri dan mereka menemukan "terbatasnya data " pada orientasi seksual.

Data ini juga tidak meliputi tindakan bunuh diri yang mengakibatkan kematian.

Pada bulan Juni 2015, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa ketentuan pernikahan sesama jenis menjadi hak negara bagian.

Topik terkait