Kim Jong-nam hidup dalam 'ketakutan dan paranoia'

Kim Jong Nam Hak atas foto AFP
Image caption Kim Jong Nam sempat dipersiapkan sebagai pemimpin besar Korea Utara, tetapi kemudian ia menjadi pengkritik kebijakan pergantian kekuasaan lewat garis darah itu.

Kim Jong-nam, abang tiri pemimpin Korea Utara Kim Jon-un semasa hidupnya terus menghkhawatirkan keselamatan dirinya.

Hal ini terungkap dalam wawancara harian Inggris, The Guardian,dengan seorang yang pernah menjadi sahabat dekat Kim, Anthony Sahakian.

Sahakian adalah teman Kim Jong-nam ketika anak tertua dari Kim Jong-il ini belajar di sekolah internasional terkenal di Swiss.

Dalam beberapa kali perjalanan ke Jenewa, Kim biasanya mengujungi Sahakian, dan mereka biasa minum kopi bersama, merokok cerutu dan berjalan-jalan.

Hak atas foto AP
Image caption Kepolisian Malaysia sudah mengumumkan nama dua orang pejabat Korea Utara sebagai tersangka

"Ia ketakutan," kata Sahakian. "Ketakutan itu bukan ketakutan yang menyeluruh, tapi lebih mirip sikap paranoia."

Sahakian menekankan bahwa Kim penuh kekhawatiran. "Tentu saja ia khawatir. Ia seorang tokoh politik yang penting," kata Sahakian lagi.

Merasa terancam

Kehkawatiran ini sejalan dengan yang didapat oleh wartawan BBC dalam percakapan dengan seorang pemilik restoran Korea di Kuala Lumpur.

Hak atas foto AFP
Image caption Kim Jong-nam merasa terancam dan hidupnya penuh dengan sikap paranoid.

Si pemilik restoran menyatakan Kim sering berkata kepadanya hidupnya terancam.

"Takut, ya. Dia benar-benar ketakutan, karena Kim Jong-un berencana membunuhnya sejak lima tahun lalu." kata pemilik restoran itu.

Seperti diketahui, Kim Jong-nam tewas dibunuh di tengah keramaian di bandara Kuala Lumpur. Pihak berwenang Malaysia telah mengumumkan nama tersangka, termasuk dua orang pejabat Korea Utara.

Seorang perempuan asal Indonesia, Siti Aisyah, masih ditahan kepolisian Malaysia untuk penyelidikan lebih lanjut.

Ingin ke luar

Hak atas foto Ahmad Yusni/EPA
Image caption Kepolisian Malaysia masih menjaga ketat rumah sakit tempat menyimpan jenazah Kim Jong-nam

Sahakian mengaku bahwa dalam berbagai pertemuan dengan Kim, mereka memang banyak berbincang soal rezim pemerintahan Korea Utara, adik tirinya, Kim Jong-un, dan pemerintahan otoriter yang muncul sesudah Kim Jong-il meninggal tahun 2011.

"Ia ingin keluar dari situasi itu. Ia tidak punya ambisi untuk memerintah di negerinya," kata Sahakian.

Sahakian mengenal Kim saat mereka berusia 12 atau 13 tahun. "Ia seorang anak yang riang, bersahabat, sangat baik dan murah hati

Kim Jong-nam merupakan anak pertama pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il dan awalnya dilaporkan dipersiapkan untuk meneruskan kekuasaan ayahnya.

Tetapi pada tahun 2001, Kim Jong-nam ketahuan memasuki Jepang dengan menggunakan paspor palsu, yang diduga menjadi menjadi penyebab dipinggirkannya ia dari posisi pengganti ayahnya.

Hak atas foto KAZUHIRO NOGI/ AFP
Image caption Yoji Gumi pernah menulis buku berisi wawancara dengan Kim Jong Nam

Mengkritik pewarisan kekuasaan

Secara umum Kim Jong-nam tidak banyak bicara kepada publik, tetapi pada tahun 2011 sebelum adik tirinya Kim Jong-un menjadi 'pemimpin tertinggi' Korea Utara, Kim Jong-nam bicara pada Yoji Gumi, seorang wartawan Jepang yang menulis buku tentang Korea Utara.

Dalam buku itu, Kim mengkritik kebijakan pewarisan kekuasaan lewat garis keturunan di Korea dan lewat Kim Jong-nam, dunia luar berhasil mengetahui kehidupan keluarga pemimpin besar Korea Utara.

Yoji Gumi sendiri menyatakan bahwa bukunya tidak menyebabkan hidup Kim Jong. Bicara kepada BBC di tahun 2012, Yoji Gumi menyatakan penerbitan bukunya kala itu justru memberi perlindungan kepada Kim.

"Tak ada yang bisa melakukan apa-apa terhadapnya selagi ia mendapat banyak perhatian," katanya.

Berita terkait