Polisi Filipina tangkap senator penentang kebijakan narkoba Presiden Duterte

senator de lima Hak atas foto EPA
Image caption Awalnya senator de Lima menginap semalam di Gedung Senat untuk menghindari penangkapan, namun kemudian menyerahkan diri kepada polisi, dan mengatakan kepada wartawan: "Merupakan kehormatan bagi saya jika ditahan terkait hal-hal yang saya perjuangkan."

Aparat Filipina menangkap Senator Leila de Lima, seorang penentang terkemuka Presiden Filipina Rodrigo Duterte, dengan tuduhan terlibat perdagangan narkoba.

Senator Leila de Lima dituduh menerima uang dari bandar narkoba yang sudah ditahan, semasa menjabat sebagai Menteri Kehakiman.

De Lima bersikeras tidak bersalah dan mengatakan tuduhan itu merupakan upaya untuk membungkam kritiknya atas langkah-langkah Duterte terkait yang dituduh terlibat narkoba.

Awalnya senator perempuan ini menginap semalam di Gedung Senat di Manila untuk menghindari penangkapan.

Tapi pada Jumat pagi ia menyerah kepada polisi, dan mengatakan kepada wartawan: "Merupakan kehormatan bagi saya jika ditahan terkait hal-hal yang saya perjuangkan."

"Mereka tidak akan mampu membungkam saya dan menghentikan saya dari perjuangan untuk kebenaran dan keadilan dan melawan penindasan dan pembunuhan yang dilakukan sehari-hari oleh rezim Duterte."

Sangkaan terhadap Leila de Lima terentang sejak dia menjabat menteri kehakiman antara tahun 2010 dan 2016.

Rodrigo Duterte menyebut de Lima sebagai seorang 'perempuan tidak bermoral.'

Dia dituduh terlibat perdagangan narkoba dengan memeras uang dari narapidana di penjara terkenal New Bilibid, dengan imbalan membiarkan para napi itu mendulang uang dengan melakukan perdagangan obat dalam penjara.

Hak atas foto ROSLAN RAHMAN/AFP/Getty Images
Image caption Duterte menunjukkan foto-foto para politikus yang ditudingnya berkomplot dengan para pengedar narkoba.

Leila de Lima adalah salah satu penentang paling lantang terhadap perang narkoba nasional yang dilancarkan Duterte secara brutal, yang dimulai sejak Juli tahun lalu. Lebih dari 7.000 orang telah tewas.

Para penentang Duterte menuding sang presiden mendorong polisi, warga dan tentara bayaran menembak langsung para tersangka pengedar narkoba dan pengguna, tapi di sisi lain presiden mendapatkan dukungan besar dari warga Filipina.

Duterte bersikukuh atas kebijakannya dengan dalih negara dilanda penyalahgunaan dan perdagangan narkoba dan bahwa polisi hanya berwenang untuk menembak kalau dalam keadaan terancam oleh tersangka.

Berita terkait