AS mulai pasang sistem pertahanan rudal Thaad di Korea

Thaad Hak atas foto Reuters
Image caption Sistem pertahanan Thaad akan menembak rudal yang dianggap sebagai ancaman terhadap Korea Selatan.

Militer AS mengumumkan bahwa mereka mulai memasang sistem pertahanan rudal di Korea Selatan.

Terminal High-Altitude Area Defense system (Thaad) dirancang untuk mempertahankan diri dari ancaman Korea Utara. Sistem Thaad menembak rudal dengan daya jangkau rendah dan sedang yang sedang mengudara.

Pemasangan sistem tersebut dilakukan sehari setelah Korut meluncurkan empat rudal balistik, melanggar sanksi internasional.

Namun rencana pemasangan ini menimbulkan kecemasan banyak kalangan di Korea Utara maupun Selatan, juga di wilayah sekitarnya.

Cina geram akan apa yang dipandangnya sebagai pelanggaran batas oleh kekuatan militer AS, sedangkan banyak warga Korea Selatan yakin bahwa sistem pertahanan itu akan menjadi target, membahayakan orang-orang yang tinggal di sekitar situs militer.

Jumat lalu (03/03), Pyongyang mengancam bahwa mereka akan menembakkan rudal sebagai respon dimulainya pelatihan militer AS-Korea Selatan. Latihan bersama yang diadakan setiap tahun itu membuat Korut panas, yang memandangnya sebagai persiapan untuk invasi dari Selatan.

Lalu pada Senin (06/03), Korut menembakkan empat rudal dari wilayah Tongchang-ri, dekat perbatasan dengan Cina.

Jenis proyektil yang digunakan belum jelas, namun tiga rudal terbang sejauh 1000km dan jatuh di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang.

Hak atas foto AP/Lee Jin-man
Image caption Warga Korea Selatan berunjuk rasa menentang pemasangan sistem anti rudal THAAD.

Laksamana Herry Harris, komandan Komando Pasifik Selatan, mengatakan peluncuran tersebut mengonfirmasi "kebijaksanaan keputusan aliansi kami tahun lalu untuk memasang Thaad di Korea Selatan."

Pemasangan itu disetujui pada masa jabatan Presiden Barack Obama, namun Harris mengatakan AS akan "dengan tegas menghormati komitmen aliansi kami kepada Korea Selatan dan siap mempertahankan diri, tanah air Amerika, dan sekutu kami."

AS memiliki sekitar 24.000 personel militer yang berbasis di Korea Selatan.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan ia dan Presiden AS Donald Trump setuju bahwa peluncuran rudal Korut "jelas merupakan tantangan bagi komunitas kawasan dan internasional.'

Mereka sepakat bahwa ancaman dari Korea Utara telah 'memasuki fase baru,' kata Abe.

Korea Utara berulang kali mengatakan program rudal dan luar angkasanya dibangun untuk perdamaian, namun negara itu diyakini tengah mengembangkan rudal balistik antar benua yang dapat menyerang AS.

Korut juga menguji coba lima perangkat nuklir, namun kebanyakan pengamat yakin mereka masih jauh untuk mampu melakukan miniaturisasi hulu ledak nuklir sehingga dapat diangkut oleh rudal.

Pyongyang mengatakan peluncuran baru-baru ini dipantau langsung oleh pemimpin merea, Kim Jong-Un dan dilakukan oleh unit yang ditugaskan untuk menyerang markas AS di Jepang.

Kantor berita pemerintah, KCNA, melaporkan bahwa Kim Jong-UN memuji rudal tersebut karena "sangat akurat, mereka terlihat bagaikan kelompok akrobat yang terbang dalam suatu formasi."