Warga Indonesia di bawah bayang-bayang politik ekstrim kanan Belanda

Umat Islam Indonesia dalam sebuah acara di Masjid Al Hikmah milik komunitas Indonesia di Den Haag. Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Umat Islam Indonesia dalam sebuah acara di Masjid Al Hikmah milik komunitas Indonesia di Den Haag.

Masjid Al Hikmah di Medlerstraat, Den Haag, merupakan salah satu pusat kegiatan masyarakat Indonesia. Sesekali pada Sabtu malam, mereka bermain rebana usai sembahyang magrib.

Diresmikan tahun 1996 lalu, masjid ini berdiri di tempat bekas sebuah gereja dengan sumbangan dari pejabat tinggi maupun pengusaha Indonesia.

Sabtu (11/03) malam pekan lalu, Masjid Al Hikmah kedatangan tamu seorang profesor perempuan dari Jepang yang ingin belajar tentang makanan halal dan seorang warga Belanda yang baru menjalani upacara memeluk Islam karena akan menikah dengan seorang perempuan Indonesia. Suasana di ruang pertemuan masjid jadi tak banyak beda dengan tempat-tempat lain Indonesia.

Namun kemunculan Partai PVV pimpinan Geert Wilders yang anti-Islam dan antipendatang, mau tidak mau membuat umat Islam Indonesia di Belanda agak khawatir juga, seperti dijelaskan Eddy Sandino, Wakil Ketua Persatuan Muslim Eropa, yang mengelola Masjid Al Hikmah.

"Tapi kita agak khawatir juga walau tidak menjadi ketakutan. Soalnya masalah-masalah seperti itu baru muncul belakangan. Dulu rasanya tidak ada."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Eddy Sandino sudah memiliki partai politik pilihannya yang anti-Wilders

Bagaimanapun Eddy tidak merasa akan banyak perubahan dalam politik Belanda karena bisa dikatakan PVV tidak akan menjadi partai pemerintah atau masuk dalam koalisi pemerintahan hasil pemungutan suara Rabu (15/03).

"Saya punya partai yang saya dukung, tapi sebetulnya ada beberapa partai yang hampir sama, mirip-mirip, yaitu anti-Wilders karena cara pikirnya itu tidak logis," tambah Eddy yang akan punya hak pilih pertama kali setelah menjadi warga negara Belanda dua tahun lalu.

Menjelaskan jilbab

Sepanjang pengetahuan Eddy, tidak ada insiden rasisme atas warga Muslim Indonesia yang tinggal di Den Haag sepanjang 35 tahun masa tinggalnya di Belanda.

Dia bahkan berpendapat kondisi di Den Haag sebenarnya lebih tenang untuk melakukan ibadah agama dibanding di beberapa tempat di Indonesia karena, tambahnya, "Kalau saya mau jujur, saya mengalami diskriminasi di Indonesia daripada di Belanda. Kita lihat beberapa tahun yang lalu kan ada ribut antara agama Islam dengan agama yang lain. Ada yang disogok untuk bikin rusuh."

Hak atas foto BBC indonesia
Image caption Umat Muslim Indonesia yang mengenakan jilbab di Den Haag tidak pernah mendapat gangguan.

Seorang warga Indonesia yang bergabung dengan komunitas Al Hikmah, Wati Cahyono -yang, juga sudah puluhan tahun tinggal di Belanda- mengenakan jilbab. Sebagai umat Islam, dia mengaku hanya sekali menghadapi masalah di tempat kerjanya.

"Alhamduiliha salma saya memakai jilbab tidak ada yang pernah mengganggu. Tapi di kantor saya pernah ditanya 'kenapa kamu harus pakai jilbab. Saya menajwa karena saya Muslim, saya pribadi wajib mengenakan jilbab'. Mereka mengerti dan tidak ada masalah algi."

Namun Wati memilih untuk tidak membahas soal politik, ketika ditanya pandangannya tentang jargon-jargon antipendatang dan anti-Islam dari Wilders. "Saya tidak mau bicara soal politik karena saya kurang mengerti."

Bagi umat Kristen asal Indonesia, maka bisa diduga peluang konflik kebudayaan menjadi lebih kecil lagi. Murni Yanti Hutagaol, misalnya, yang menikah dengan pria Belanda memang ingin suatu saat nanti tetap pulang ke Indonesia, tapi lebih karena urusan cuaca semata.

"Di sini dingin, dan kalau sudah pensiun kami mungkin mau pulang ke Indonesia," tutur karyawan di sebuah kantor pekerjaan umum di Den Haag, yang tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesia karena rencana pulang kampungnya itu.

Hak atas foto BBC indonesia
Image caption Penguasaan bahasa Belanda, menurut Murni Yanti Hutagaol, merupakan faktor yang membantu integrasi.

Menurut Yanti, tidak banyak masalah yang dihadapi warga keturunan Indoneia di Den Haag, dan di Belanda pada umumnya, antara lain karena kemampuan berbahasa.

"Kalau kita lihat orang Maroko, misalnya, banyak yang tidak lancar Bahasa Belanda, jadi kan susah berintegrasi sama masyarakat setempat. Mereka banyak yang masih berbahasa Arab. Kalau orang Indonesia kayaknya tidak ada masalah."

Bagaimanapun Yanti mengaku bisa memahami pandangan Wilders tentang para pendatang, yang menurutnya semakin banyak di Belanda.

"Saya kira bagi banyak orang Belanda, pandangannya mungkin ada benarnya tapi masalahnya Wilders itu terlalu rasis," tambah Yanti.

_____________________________________________________________________

Kebangkitan politik kanan di Belanda

Profesor Henk Schulte Nordholt, KITLV - Universitas Leiden

"Menurut saya ada tiga penyebab dari meningkatnya gerakan populis aliran kanan di Belanda.

Yang pertama adalah hilangnya politik aliran. Sama seperti di Indonesia dulu di Belanda juga ada sistem aliran. Jadi ada aliran Kristen Protestan, Kristen Katolik, aliran liberal, aliran sosialis. Dunia itu aman, ada konformasi, ada toleransi terhadap aliran lain.

Tapi waktu sekularisasi dimulai, prosesnya cepat sekali pada akhir tahun 1960-an. Sistem aliran itu bukan kelas karena orang yang miskin masuk dalam aliran yang sama juga, sehingga ada perasaan aman dilindungi bapak-bapak di atas. Waktu aliran runtuh, tidak ada bapak lagi dan banyak orang yang di bawah merasa tertinggal, mereka merasa menjadi yatim piatu.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Rasa ketertinggalan merupakan penyebab meningkatnya gerakan populis, menurut Prof Henk Schulte Nordholt.

Dan selama ekonomi tumbuh, tidak begitu masalah. Tapi begitu ada stagnasi ekonomi, dan juga ada globalisasi maka orang merasa terancam dan tidak terlindungi lagi. Perbatasan dibuka dan ada pengaruh globalisasi. Jadi neoliberalisme juga faktor yang amat penting.

Bersamaan dengan globalisasi, ada pendatang yang masuk, dan ada Islam, yang sebenarnya juga merasa terancam oleh globalisasi. Tapi semua ancaman dari luar disebut Islam, walaupun ancaman dari luar itu jelas lebih luas, lebih rumit.

Dan kenapa banyak pengikut Wilders begitu marah terhadap elite? Karena ada perbedaan meritokrasi yang muncul, seperti di Amerika Serikat. Banyak orang yang pendidikannya tidak terlalu tinggi juga merasa tertinggal.

Meritokrasi modern -manajemen politik yang modern- sama sekali tidak mengerti kehidupan dan pengalaman sehari-hari orang tua, yang tidak bisa masuk internet, misalnya.

Jadi ada keruntuhan aliran, muculnya meritokrasi, dan globalisasi. Itu tiga proses yang menimbulkan gerakan populis.

Sebenarnya bagi banyak pendukung Wilders, bukan isu Islam yang paling penting. Wilders memang selalu menegaskan masalah Islam, tetapi saya kira kebanyakan pengikutnya lebih pada perasaan tertinggal."

_______________________________________________________________________

Kehadiran Wilders di dengan isu antipendatang dan anti-Islam tidak bisa tidak tetap menjadi perhatian bagi warga Belanda. Namun di kota universitas Leiden, agaknya PVV tidak mendapat banyak dukungan, yang mengalir ke partai beraliran kiri, seperti GroenLinks maupun Partai Sosialis.

Di luar stasiun kereta api -tak jauh dari para pegiat partai DD66, GroinLinks, Partai Sosial- Rachel Manuhutu -yang lahir di Belanda dari ayah dan ibu orang Indonesia- sedang ngobrol dengan kedua temannya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bersama temannya, Rachel Manuhutu (kanan berkacamata) bersemangat menggunakan hak pilih mereka yang pertama.

Mahasiswa jurusan Therapy Music yang berusia 18 tahun ini akan memilih untuk pertama kalinya dalam pemilu 2017-dan mengaku bersemangat untuk memberikan suaranya.

"Saya akan memilih karena perlu untuk ikut memberi perhatian kepada pemerintahan. Kalau saya bilang, saya tak milih karena kawan saya saja yang milih, bisa jadi kawan saya juga mikir seperti itu. Jadi tidak ada yang ikut milih," katanya dalam Bahasa Indonesia yang sesekali dicampur dengan Bahasa Inggris karena beberapa kata yang dia sudah lupa.

Pilihannya adalah Partai Sosialis dengan prinsip kesetaraannya dan menyediakan pendidikan untuk semua kalangan, "Jadi bukan hanya orang kaya saja yang bisa mendapat pendidikan tinggi."

Terlepas dari kecilnya peluang partai pimpinan Wilders merebut kekuasaan, tetap muncul kekhawatiran, jelas Lea Pamungkas, mantan wartawan Indonesia yang kini bekerja di sebuah rumah produksi film di Amsterdam.

"Sopan santun politik itu rasanya tidak ada lagi. Bayangkan partai politik melakukan perdebatan tentang agama, kan rasanya tidak tepat."

Lea yakin bahwa isu sebenarnya bukan Islam namun kedatangan para pengungsi dari negara-negara Islam yang dilanda perang, yang menjadi beban ekonomi bagi pemerintah-pemerintah daerah sehingga berdampak pada munculnya persepsi berkurangnya perhatian pada masyarakat setempat.

"Di beberapa kampung, misalnya, ada yang jumlah warganya sekitar 1.500 namun menerima pengungsi sampai 2.000-an," jelas perempuan yang aktif sebagai sukarelawan dalam Pengadilan Rakyat untuk kasus pembunuhan massal 1965 yang digelar di Den Haag akhir 2015 lalu.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Lea Pamungkas menyayangkan hilangnya sopan santun politik di Belanda.

Bagaimanapun sebagai warga Indonesia, Lea secara pribadi mengaku tidak khawatir akan menghadapi diskriminasi di tengah meningkatnya politik kanan di Belanda.

"Kalau orang Asia, seperti Indonesia, Cina, dan Thailand, tidak menghadapi masalah tapi Turki dan Maroko mungkin saja, karena prasangka rasial Wilders itu ditujukan kepada warga Arab dan Islam."

Tapi itu tadi, persoalannya mungkin bukan sekedar pengalaman individu lagi tapi pada pengalaman hidup bersama dalam masyarakat dan Wilders sepertinya sudah melempar hasutan.

Walau kelak partainya tidak masuk dalam pemerintahan, dampaknya mungkin sudah terjadi.

Berita terkait