Seks, narkoba, tambang, dan maut: Cara Duterte mengguncang Filipina

kekerasan Filipina Hak atas foto Santigao
Image caption Seorang tersangka pengedar narkoba, tewas dalam penggrebekan polisi.

Para pendukungnya menganggap Presiden Rodrigo Duterte 'utusan Tuhan' dan penuh dengan 'kebijaksanaan.' Para pengkritiknya menuduh ia melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dia dijuluki 'Si Penghukum' dan 'Trump dari Timur.' Terlepas dari kontroversi internasional, tindakannya membuahkan hasil dan popularitasnya di dalam negeri terus meningkat. Rebecca Henschke di Manila melihat empat cara Duterte mengubah Filipina dan wilayah sekitar Indonesia itu.


Larangan total pertambangan?

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan Filipina dapat bertahan hidup tanpa pertambangan. Ia mengatakan pemerintahannya mengkaji kemungkinan untuk melarang penambangan sepenuhnya, 'dan kemudian 'kami akan berbicara kepada para penambang.' Dia mengatakan alasannya adalah untuk menyelamatkan lingkungan.

"Kalau persoalannya adalah pelestarian negara saya, bumi Filipina, ... saya akan melakukan apa yang harus dilakukan," kata Duterte.

Pemerintah sudah memerintahkan penutupan 23 dari 41 tambang negara untuk melindungi daerah aliran sungai. Dan menangguhkan lima lain untuk pelanggaran lingkungan dan membatalkan 75 kontrak tambang yang belum dijalankan.

Hak atas foto EPA/FRANCIS R. MALASIG
Image caption Masyarakat suku Igorot Filipina, dan para pegiat lingkungan dalam aksi anti pertambangan di kota Pasig, Filipina, awal Maret. Mereka mendukung kebijakan Duterte untuk menutup pertambangan.

Sektor pertambangan memberikan kontribusi pemasukan sekitar 70 miliar peso Filipina (Rp17 triliun) per tahun. Tapi Presiden Duterte menganggap Filipina bisa hidup tanpa itu.

"Anda pikir Anda dapat hidup dengan itu (kerusakan lingkungan) karena 70 miliar (peso) atau karena mereka memberikan sumbangan untuk dana kampanye politik? Saya tidak," kata Duterte, sambil menunjukkan gambar kerusakan lingkungan akibat pertambangan, dalam sebuah konferensi pers.

Filipina adalah salah satu eksportir nikel terbesar di dunia setelah Indonesia.

Perang narkoba: 'masih banyak yang akan akan dibunuh'

Duterte menyebut anggota parlemen Eropa sebagai 'orang gila' ketika menjawab kecaman mereka terhadap perang narkoba yang dilancarkannya secara berdarah. Duterte malah menyatakan bahwa semua pengedar akan dibunuh.

Hak atas foto Santigao
Image caption Setiap waktu jasad tersangka pengedar narkoba terkabar di jalanan kota di seantero Filipina.
Hak atas foto Santigao
Image caption Duterte dikecam dunia internasional untuk kebijakan kerasnya, namun mendapat dukungan sebagian rakyat Filipina.

Ia mengatakan hal itu setelah pekan lalu Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi yang mengutuk 'tingginya jumlah pembunuhan di luar hukum' dalam perang narkoba Duterte ini.

"Saya tidak paham orang-orang gila ini. Mengapa mereka mencoba untuk memaksakan (pandangan mereka) pada kami? Mengapa tidak mengurus masalah mereka sendiri," kata Duterte,

"Mengapa Anda harus bikin masalah dengan kami, Persetan."

Polisi dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.500 orang, sementara kelompok-kelompok hak asasi mengatakan terjadi pula lebih dari 5.000-8.000 kematian lainnya terkait dengan perang narkoba.

Hak atas foto Santigao
Image caption Keluarga para tersangka pengedar narkotika hanya bisa pasrah.

"Masih banyak lagi yang akan mati. Saya tegaskan saya tidak akan berhenti. Saya akan meneruskannya sampai bandar obat bius terakhir di Filipina mati dan pengedar narkoba enyah dari jalanan," katanya.

Dia mengatakan dia harus 'menghancurkan' pengedar kecil-kecilan di jalanan, sebagaimana bandar besar dan kartel narkoba.

Kontrasepsi gratis bagi warga miskin

Presiden Duterte telah memerintahkan lembaga-lembaga pemerintah untuk memperluas akses terhadap kontrasepsi, terutama bagi perempuan miskin.

Dia menginginkan agar pada tahun 2018, terjadi "kebutuhan yang belum terpenuhi untuk keluarga berencana modern mencapai angka nol."

Image caption Gereja menginginkan agar KB hanya dilakukan secara alami, namun Duterte menyebutnya sebagai omong kosong.

Perintah eksekutif Duterte untuk kontrasepsi gratis bagi masyarakat miskin ditandatangani awal tahun ini merupakan bagian dari perjuangan panjang untuk KB di Filipina yang mayoritas Katolik.

Presiden menegaskan pentingnya keluarga berencana untuk mengurangi kemiskinan. Tapi Gereja Katolik yang sangat berpengaruh di Filipina, menganggap menggunakan kontrasepsi adalah sama dengan aborsi dan bertentangan dengan ajaran 'kesucian hidup.'

Hak atas foto Santigao
Image caption Gereja Katolik sangat kuat di Filipina, namun Duterte sering melontarkan penentangan terang-terangan.

Gereja meminta umat Katolik untuk menggunakan metode alami dengan sistem kalender untuk berhubungan seks hanya saat perempuan sedang tidak dalam masa subur.

Belum lama ini Presiden Duterte menantang gereja dengan mengatakan bahwa Anda tidak dapat mengontrol syahwat Anda seperti itu dan bahwa sistem kalender itu sia-sia, menyiratkan bahwa dia akan berhubungan seks kapan pun ia menginginkannya.

Memberlakukan lagi hukuman mati

Filipina menghapuskan hukuman mati pada tahun 2006. Sekarang Presiden Rodrigo Duterte ingin memberlakukannya kembali sebagai bagian dari kebijakannya yang keras dan berdarah dalam menangani kejahatan.

Anggota parlemen sudah mengesahkannya di DPR dan diperkirakan Senat akan meloloskannya juga.

Hak atas foto AP
Image caption Warga Filipina bersorak gembira mendapati kabar bahwa Indonesia menunda eksekusi mati terhadaop warga mereka Mary Jane Veloso

Uskup Filipina sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik negeri itu mengatakan bahwa hukuman mati akan menjadi bias terhadap orang miskin, yang tidak akan mampu membayar pengacara yang baik, dan berpendapat tidak ada bukti bahwa hukuman mati mencegah kejahatan.

Para pendukung hukuman mati berharap bisa memberlakukannya lagi bulan Mei tahun ini.

Menjauh dari AS mendekat ke Cina

"Cina sekarang sedang sangat kuat, dan mereka memiliki keunggulan militer di kawasan ini," kata Rodrigo Duterte beberapa bulan setelah berkuasa.

Dia kemudian mengakhiri patroli angkatan laut gabungan bersama Amerika Serikat di Laut Cina Selatan yang disengketakan, dan mengusir pasukan AS dari Mindanao selatan.

Duterte menganggap kehadiran tentara AS itu turut mendorong bangkitnya pemberontakan Islamis Filipina - dan telah mengumumkan rencana untuk membeli peralatan militer dari Cina dan Rusia.

"Kami ibaratnya tidak bermaksud memotong tali pusar, tapi saya juga tidak ingin menempatkan negara saya dalam bahaya," kata Duterte, yang bertekad untuk menetapkan kebijakan luar negeri yang independen.

Seks untuk rahasia

Hubungan AS-Filipina sekarang sedang diuji lebih lanjut oleh skandal yang lalu dijuluki 'seks untuk rahasia'.

Pekan ini seorang purnawirawan laksamana angkatan laut AS dan delapan mantan perwira militer lainnya telah didakwa menerima suap berupa layanan seks, perjalanan wisata dan tunjangan mewah lainnya dari seorang kontraktor bisnis pertahanan Malaysia yang dijuluki Fat Leonard -atau Leonard si Gendut.

Hak atas foto ROSLAN RAHMAN/AFP/Getty Images
Image caption Duterte menunjukkan foto-foto para politikus yang ditudingnya berkomplot dengan para pengedar narkoba.

Laksamana purmawirawan Bruce Loveless, 53 tahun, dan perwira lain dituduh menerima layanan pekerja seks dan suap lainnya dari Leonard Francis untuk mendapatkan imbalan informasi rahasia untuk membantu perusahaan milik Leonard Francis, Glenn Defence Marine Asia.

Francis juga dituduh membayarkan biaya makanan sebanyak $12.000 (Rp160 juta), anggur mahal dan cerutu yang per kotaknya seharga $2.000 (Rp27 juta).

Berita terkait