Siapa yang berani 'menunggangi' Kim Jong-un?

Korut Hak atas foto KCNA/Uriminzokkiri
Image caption Petugas yang sudah berumur itu tampak penuh dengan emosi saat naik ke punggung pemimpinnya.

Korea Utara menggelar uji coba mesin roket, pekan lalu. Namun, bersamaan dengan peristiwa itu, ada satu foto Kim Jong-un yang cukup mencolok dari yang lain.

Pada foto-foto yang dikeluarkan kantor berita milik negara, KCNA, Kim tampak memperhatikan roket dari jauh, menyeringai di pusat kontrol, berjabat tangan dengan para petugas yang bergembira, dan yang paling unik: menggendong seorang pria berumur di punggungnya.

Siapa yang berani naik ke punggung seorang diktator seperti ini, dan mengapa?

Para pemerhati Korut berkata pria misterius itu bukan tokoh terkenal di ranah politik negara tersebut. Dia diperkirakan berperan dalam uji coba mesin dan besar kemungkinan berinteraksi dengan Kim sebelumnya.

Pemerhati Korut, Michael Madden, berkata tanda di seragamnya mengindikasikan pria itu merupakan seorang perwira menengah di Unit Kekuatan Strategis militer Korut, yang bertanggung jawab atas rudal yang digunakan dalam serangan.

Meski gambar tersebut hampir pasti disengaja, "itu tidak sepenuhnya difabrikasi," kata Madden, dari Institut AS-Korea di Universitas John Hopkins.

"Itu lebih ke sebuah dorongan, bukan sesuatu yang sengaja dibuat sebagai pencitraan."

Film-film propaganda Korea Utara sebelumnya menunjukkan bahwa warga biasa pun dapat mendekati Kim.

'Ramah dan bersahabat'

Tujuan utama dari gambar tersebut adalah untuk memoles citra Kim di bangsanya sebagai pemimpin rakyat yang riang.

Saat Kim berusaha untuk menampilkan sosok yang "keras kepala dan tak kenal kompromi" di dunia internasional, di dalam negeri "ceritanya berbeda ", tulis Profesor Jae-Cheon Lim, dari Universitas Korea University di Seoul.

"Kita tahu dia sangat tegas dengan kaum elite saat mereka tidak menuruti perintahnya. Namun secara umum ke rakyatnya citra propagandanya adalah ramah dan bersahabat."

Hak atas foto KCNA/Uriminzokkiri
Image caption Di foto lain yang dikeluarkan oleh KCNA, petugas yang sama terlihat memeluk Kim.

Hal itu berbeda sekali dengan pemimpin sebelumnya, yang ingin lebih ditakuti daripadi dicintai. "Tidak akan ada yang berani menunggangi ayahnya atau bahkan kakeknya," kata Madden.

"Namun ini cocok dengan citra yang ingin dibangun Jong-un - bahwa dia lebih terbuka dalam hubungan, dibanding ayahnya."

"Hal itu menunjukkan sebuah kepercayaan diri politik dalam kepemimpinan negaranya. Jika dia tidak merasa percaya diri, dia tidak akan mengizinkan foto-foto ini disebar - dia harus terlihat berjarak dan dingin."

Hak atas foto KCNA/Uriminzokkiri
Image caption Kim juga tampak bercanda dan tertawa di tempat pengujian mesian rudal.

Gambar tersebut juga menyiratkan Kim sekarang ini dalam kondisi sehat.

Dia sempat terlihat pincang dan menggunakan sebuah tongkat pada 2014, mengarah ke spekulasi bahwa dia memiliki radang sendi, dan pincang lagi baru-baru ini pada akhir 2016.

Meminjam dari buku permainan sepakbola

Menggendong seseorang setelah sebuah kemenangan lebih sering dilihat dalam pertandingan sepak bola dibandingkan di gambar-gambar propaganda Korea Utara, namun Kim dikenal menggunakan pendekatan olahraga dalam program perkembangan senjatanya.

"Saat uji coba dijalankan, warga sipil dan petugas militer [diminta] untuk menghargai itu seperti sebuah kompetisi olahraga - mereka kadang menang, kadang kalah", kata Madden.

"Mereka tidak selalu 'menang' atau memenuhi spesifikasi teknis, dan saat mereka 'kalah' mereka mempelajari penampilan mereka dan melihat apa yang terjadi."

Hak atas foto KCNA/Uriminzokkiri
Image caption Ini adalah spontanitas yang dibuat, tidak berarti Kim benar-benar bahagia di foto ini, menurut Professor Jae-Cheon Lim.

Namun, meski foto itu tampak seperti adalah spontanitas yang dibuat-buat, tidak berarti Kim tidak bahagia di foto itu.

Profesor Lim mengatakan bahwa Kim memiliki alasan untuk merayakan sebuah uji coba mesin rudal yang membuatnya satu langkah semakin dekat dengan tujuan nuklirnya - dan menyegel warisan namanya.

"Dalam sejarah propaganda, kakeknya adalah pembebas Korea lewat perang gerilya melawan Jepang. Ayahnya sukses mempertahankan rezim di bawah kemiskinan."

"Namun Kim Jong-un menjadi pemimpin dengan cepat dan tidak ada pencapaian yang signifikan hingga saat ini."

"Jika Korea Utara memiliki nuklir, itu akan menjadi pencapaiannya."

Berita terkait