Mulai terkuak, identitas pelaku serangan teror di Westminster

Polisi di Westminster Hak atas foto AFP
Image caption PM May mengatakan pelaku serangan di Westminster pernah diselidiki aparat keamanan beberapa tahun lalu.

Perdana Menteri Theresa May mengatakan pria yang melakukan serangan di Jembatan Westminster dan kompleks Gedung Parlemen London adalah kelahiran Inggris dan pernah diselidiki aparat keamanan di masa lalu.

Penyelidikan oleh polisi dan dinas rahasia dalam negeri, MI5, tersebut dilakukan atas kecurigaan bahwa ia memiliki kaitan dengan aktivitas atau kelompok ekstrem.

Kepada para anggota parlemen hari Kamis (23/03), PM May mengatakan bahwa ia 'bukan figur penting' dan 'dinas rahasia tidak memiliki informasi bahwa ia akan melakukan serangan' hari Rabu (22/03).

"Ia bukan tokoh penting ... ia bukan bagian dari gambaran intelijen saat ini. Intelijen tak punya informasi perihal rencananya melancarkan serangan," kata PM May.

PM May menambahkan identitas pelaku akan diungkap begitu penyelidikan memungkinkan pengungkapan jati dirinya.

Delapan orang ditahan dan enam alamat di London dan Birmingham digerebek oleh aparat keamanan.

Wartawan BBC, Dominic Casciani, mengatakan frasa 'bukan bagian dari gambaran intelijen saat ini' mengindikasikan bahwa saat ini pelaku tak masuk radar pengawasan aparat keamanan.

Dilema aparat keamanan

Hak atas foto Getty Images
Image caption Anggota polisi melakukan investigasi, antara lain mencoba mendapatkan petunjuk tentang motif dan identitas pelaku serangan.

Pernyataan itu juga menggarisbawahi sulitnya aparat mendeteksi tipe serangan seperti yang terjadi pada Rabu siang.

"Setiap hari aparat keamanan harus menentukan, mana yang masuk prioritas mana yang akan ditinggalkan ... orang-orang yang menjadi 'sumber ancaman' juga berubah. Mereka tumbuh, punya anak dan keluarga. MI5 diberi tugas untuk memfokuskan pada orang-orang yang benar-benar merencanakan serangan," kata Casciani.

Dalam insiden teror ini empat orang meninggal dunia termasuk pelaku, yang ditembak polisi setelah ia menikam anggota polisi hingga tewas di halaman Gedung Parlemen.

Sebelumnya ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak sejumlah orang di Jembatan Westminster, menewaskan dua orang dan melukai tak kurang dari 40 orang lainnya.

Dua yang meninggal adalah seorang pria berusia 50-an tahun dan Aysha Frade yang bekerja di satu lembaga pendidikan, yang kantornya beberapa ratus meter dari Jembatan Westminster.

Korban yang mengalami luka-luka berasal dari 11 negara yang berbeda.

Dari yang mengalami luka-luka, tujuh di antaranya dalam kondisi kritis.

Serangan di kompleks parlemen Inggris di Westminster, London, terjadi tepat satu tahun serangan di Brussels, Belgia, yang menewaskan 32 orang.

Serangan di London ini adalah yang terburuk sejak 2005 ketika serangan di sistem transportasi umum yang menewaskan 52 orang.

Topik terkait

Berita terkait