PBB khawatir 200 orang tewas dalam serangan udara koalisi

Irak Hak atas foto AP
Image caption Penduduk membawa mayat ke luar gedung yang runtuh akibat serangan di kota Jadideh.

PBB menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap laporan yang menyebut besarnya warga sipil yang menjadi korban di Mosul Irak.

Pejabat senior PBB di Irak mengatakan bahwa dia terkejut dengan jumlah "hilangnya nyawa yang mengerikan", setelah klaim yang menyebutkan bahwa setidaknya 200 orang tewas dalam sebuah serangan udara oleh pasukan koalisi yang dipimpin oleh AS.

Pesawat tempur AS membantu misi tentara Irak untuk mengambil alih Mosul dari kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Media AS melaporkan sebuah penyelidikan terhadap insiden tersebut tengah dilakukan. Pejabat militer mengatakan koalisi tengah melakukan investigasi terhadap laporan kematian warga sipil dalam serangan yang dilakukan pada 17-23 Maret lalu.

Kolonel Joseph Scrocca, juru bicara untuk komando yang dipimpin AS di Baghdad, mengatakan bahwa "koalisi telah memulai sebuah penyelidikan formal terhadap dugaan kematian warga sipil.

"Kendati begitu, prosesnya akan memakan waktu, terutama ketika ditanyakan tanggal dugaan serangan tersebut," kata dia.

Bagaimanapun, para wartawan yang berada di kota tetangga Mosul Jadideh mengatakan pada Jumat (24/03) lalu, mereka melihat 50 mayat dikeluarkan dari sejumlah bangunan yang hancur akibat serangan udara pada awal Maret lalu.

Pasukan Irak telah melakukan serangan selama satu bulan untuk mengambil alih Mosul, kota terakhir bagi kekuatan ISIS di Irak, yang telah dikuasai sejak 2014 lalu.

PBB memperkirakan sekitar 400.000 warga sipil Irak terjebak di Kota Tua Mosul selama pasukan pemerintah berupaya untuk mengambil alih wilayah itu.

Lebih dari 180.000 orang telah mengungsi ke bagian barat kota tersebut dalam satu bulan terakhir, ditengah kekhawatiran adanya tambahan pengungsi sebanyak 320.000 dalam beberapa pekan ini.

Penduduk yang berhasil mengugsi mengatakan militan menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup, bersembunyi di rumah-rumah dan memaksa laki-laki muda untuk ikut bertempur.

Berita terkait