Carrie Lam pemimpin perempuan pertama Hong Kong

Hong Kong Hak atas foto Reuters
Image caption Para kandidat Woo Kwok-hing, Carrie Lam dan John Tsang.

Carrie Lam terpilih menjadi pemimpin baru Hong Kong, dan menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan tertinggi.

Kemenangan dia telah diperkirakan karena mendapatkan dukungan Beijing. Kepala eksekutif Hong Kong dipilih oleh sebuah komite pemilu yang sebagian besar anggotanya pro-Beijing, dibandingkan dengan mereka yang mewakili suara publik.

Kelompok pro-demokrasi menggelar protes di luar gedung pemilihan pada Minggu, dengan menyebut proses itu sebagai sebuah tipuan.

Menurut jajak pendapat, pesaing Lam, mantan kepala keuangan John Tsang, lebih disukai oleh publik. Kandidat ketiga merupakan pensiunan hakim Woo Kwok-hing.

Dalam pidato pengukuhannya, dia mengatakan: "Hong Kong, rumah kita, menderita perbecapan yang serius dan telah meningkatkan banyak rasa frustasi. Prioritas saya adalah akan memulihkan perbedaan ini."

Carrie Lam menghadapi peningkatan tuntutan untuk menggelar pemilu yang bebas di semi-otonom, yang sebelumnya gagal, meskipun terjadi demonstrasi yang intens, yang dikenal dengan "protes payung"pada 2014 lalu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption CY Leung dianggap sebagai pendukung Beijing, dan hanya menjabat satu periode.

Lam akan menggantikan pemimpin Hong Kong saat ini, CY Leung, yang akan mundur pada Juli mendatang. Sebelumnya, Lam merupakan wakilnya.

Leung dikritik karena dekat dengan Beijing, dan kemudian menyatakan tak akan maju kembali dalam pemilu karena alasan keluarga.

Lam, merupakan sejak lama menjadi pengawai negeri, yang memiliki julukan pengasuh karena memiliki latar belakang menjalankan sejumlah proyek pemerintah.

Dalam protes 2014, dia mengambil langkah yang tidak populer dengan membela reformasi politik Beijing - dengan memberikan kelonggaran bagi warga Hong Kong untuk memilih pemimpinnya, tetapi dari para kandidat yang telah disetujui pemerintah Cina.

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Protes payung" yang digelar secara intens pada 2014 lalu.

Aktivis pro-demokrasi Joshua Wong, yang berada di antara mereka yang melakukan protes dan merupakan figur utama dalam gerakan payung, menyebut proses pemilihan itu sebagai "sebuah seleksi dibandingkan sebuah pemilihan".

Protes dilakukan secara online melalui Facebook dengan meluncurkan 'Tidak Ada Pemilu di Hong Kong', melalui unggahan video yang menunjukkan warga mengerjakan urusan mereka ketika pemilu dilakukan, untuk menunjukkan bahwa mereka tidak berhak untuk berpartisipasi.

Komite pemilu Hong Kong yang berjumlah 1.200 kursi itu, termasuk 70 orang anggota Dewa Legislatif - separuh dari mereka ditunjuk langsung. Bagaimanapun, sebagian besar komite dipilih dari kalangan bisnis, professional atau kelompok kepentingan khusus.

Kritik menyebutkan bahwa entitas yang condong ke Beijing diberikan wakil yang lebih banyak.

Tahun lalu, aktivis pro-demokrasi meraih 325 kursi dalam komite - yang merupakan jumlah terbesar. Bagaimanapun, jumlah itu tak cukup bagi mereka untuk menentukan siapa yang menjadi kepala eksekutif.

Berita terkait