Serangan London: Ibu pelaku Khalid Masood 'kaget dan sedih'

westminster Hak atas foto Daily Mail/Solo Syndication

Ibu pelaku serangan Westminster Khalid Masood mengaku 'kaget, sedih dan mati rasa' oleh perbuatan anaknya.

Janet Ajao, ibu kandung Masood, berkata, dia "menangis untuk orang-orang yang terkena kejadian mengerikan itu."

Tiga orang tewas ditabrak Masood yang melajukan mobil ke arah pejalan kaki pada Rabu (22/3) lalu. Dia kemudian menusuk seorang polisi sebelum akhirnya ditembak mati.

Sementara itu, polisi mengatakan tidak menemukan bukti apapun yang mengaitkan Masood dengan militan yang disebut dengan ISIS atau pun al-Qaeda.

Janet Ajao menyebut: "Saya ingin menegaskan, sehingga tidak ada keraguan, bahwa saya tidak membenarkan tindakannya atau mendukung keyakinannya yang membuatnya melakukan kekejaman itu."

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman saya, keluarga dan komunitas saya dari lubuk hati saya untuk kasih dan dukungan yang diberikan kepada kami."

Masood, 52 tahun, lahir sebagai Adrian Elms namun kemudian menggunakan nama ayah tirinya Ajao, sebelum mengganti nama lagi, melancarkan serangannya dalam 82 detik.

Polisi meyakini bahwa dia berkendara hingga 122 km per jam saat melintasi Jembatan Westminster.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS mengaku berada di belakang serangan tersebut.

Namun Wakil Asisten Komisioner Neil Basu, dari Kepolisian Metropolitan London, berkata kepada BBC Panorama bahwa, meski Masood 'jelas memiliki ketertarikan pada jihad,' namun polisi sejauh ini tidak menemukan bukti apapun yang berkaitan dengan kelompok ISIS atau al-Qaeda, atau bahwa dia membahas rencana serangannya dengan orang lain.

"Metodenya tidak canggih, berteknologi rendah, berbiaya rendah yang ditiru dari serangan-serangan lain dan searah dengan retorika pemimpin ISIS dalam hal metode dan menyerang polisi serta warga sipil. Namun saya tidak memiliki bukti atau informasi saat ini bahwa dia pernah mendiskusikan serangan itu dengan orang lain," kata Basu.

Ditambahkan, tidak ada bukti Masood teradikalisasi di penjara pada 2003 -dan menyebut dugaan itu sebagai 'spekulasi.'

Dia berkata Masood tidak dianggap sebagai ancaman oleh badan keamanan atau polisi anti teror dan tidak masuk dalam kelompok yang diselidiki terkait dengan Luton - tempat dia dulu tinggal - atau jaringan al-Muhajirun yang sudah lama ditinggalkan.nya

Disebutkan pula: "Saya tahu kapan, dimana dan bagaimana Masood melakukan serangannya, namun sekarang saya butuh tahu mengapa. Yang lebih penting begitu juga para korban dan keluarga."

Hak atas foto PA/Facebook
Image caption Keith Palmer, Kurt Cochran dan Aysha Frade tewas dalam serangan (kirin ke kanan).

Yang tewas dalam serangan itu adalah: polisi berusia 48 tahun Keith Palmer; Aysha Frade, yang bekerja di sebuah kampus dekat Jembatan Westminster; Kurt Cochran, yang sedang dalam perjalanan dari AS untuk merayakan pernikahan ke 25; dan pensiunan pembersih kaca berusia 75 tahun Leslie Rhodes.

Tiga belas orang masih dirawat di rumah sakit.

Keluarga Kurt Cochran berkata mereka telah "merasakan kasih saying dari begitu banyak orang" sejak kematiannya.

Cochran sedang bersama istrinya, Melissa, di hari terakhir liburan mereka di Eropa untuk merayakan ulang tahun perkawinan mereka ke 25 saat jadi korban serangan. Itu perjalanan pertama mereka ke luar negeri. Melissa menderita patah kaki dan rusuk serta luka robek di kepala.

Hak atas foto Evening Standard
Image caption Anggota parlemen Tobias Ellwood, disebut sebagai 'pahlawan' karena memberikan bantuan pernafasan ke Keith Palmer, petugas polisi yang akhirnya tewas.

Sementara itu, anggota parlemen Tobias Ellwood, yang disebut sebagai 'pahlawan' karena memberikan bantuan pernafasan ke Keith Palmer, petugas polisi yang akhirnya tewas, berkata dia 'sangat sedih' karena tidak dapat melakukan lebih untuk menyelamatkan hidup polisi itu.

Ellwood, yang juga mantan anggota militer, mencuit bahwa dia telah 'sangat berterima kasih' pada pesan dukungan yang diterimanya sejak serangan itu.

Polisi menahan dua orang dari Birmingham atas kecurigaan menyiapkan serangan teroris. Sembilan orang telah dibebaskan tanpa tuduhan, sementara itu seorang perempuan berusia 32 tahun di Manchester tetap dalam jaminan polisi hingga akhir Maret.

Berita terkait