Turki 'memata-matai' warganya yang tinggal di Jerman

Turki, referendum Hak atas foto EPA
Image caption Pemilih Turki yang berada di luar negeri sudah mulai memberikan suaranya dalam referendum yang akan memberi wewenang kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Kejaksaan Federal Jerman memulai penyelidikan atas dugaan kegiatan mata-mata oleh pihak berwenang Turki atas warga Turki yang tinggal di Jerman.

Langkah itu menyusul laporan-laporan yang menyebutkan dinas intelijen Turki, MIT, memata-matai ratusan warganya di Jerman yang diduga masuk dalam gerakan menentang Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Skala spinoase itu, seperti dilaporkan beberapa media Jerman, terungkap setelah Kepala MIT menyerahkan satu daftar kepada Kepala Intelijen Asing Jerman, Bruno Kahl.

Selain alamat dan nomor telepon, pihak intelijen Turki juga memberikan sejumlah foto pengawasan.

Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere, menegaskan spionase oleh pemerintah Ankara atas warga Turki yang tinggal di Jerman merupakan tindakan kriminal dan tidak bisa ditolerir.

Hak atas foto Getty/Sean Gallup
Image caption Diperkirakan terdapat 2,5 juta warga Turki di negara-negara Uni Eropa, termasuk sekitar 1,4 juta di Jerman, yang memiliki hak untuk memberikan suara dalam referendum.

Hubungan Turki dan Jerman menegang terkait dengan referendum tentang konstitusi Turki karena beberapa menteri Turki ingin menghadiri acara pertemuan warga di Jerman -dan beberapa negara Uni Eropa, seperti Belanda.

Kehadiran para menteri tersebut bertujuan untuk menggalang agar para pemilih Turki yang tinggal di luar negeri mendukung referendum yang akan memberi wewenang lebih besar kepada Presiden Erdogan.

Jerman, seperti negara Uni Eropa lainnya, melarang menteri-menteri Turki melakukan 'kampanye' di negara mereka dan Presiden Erdogan menanggapinya dengan menyebutnya sebagai praktik Nazi, yang menyebabkan kemarahan di Jerman.

Hak atas foto EPA/PETER KLAUNZER
Image caption Swiss menyelidiki dugaan bahwa warga Turki yang kritis terhadap pemerintahan Erdogan dimata-matai.

Kembali memicu kemarahan

Sekitar 1,4 juta warga Turki di Jerman berhak memberikan suara dalam referendum yang akan berlangsung pada 16 April mendatang namun para pemilih di luar negeri sudah memberikan suara mulai Senin (27/03).

Sejak kudeta militer Turki yang gagal pada Juli 2016 lalu, sekitar 41.000 orang ditangkap dengan dugaan mendukung ulama Turki yang tinggal di Amerika Serikat, Fethullah Gulen, yang dituduh menggalang kudeta.

Hak atas foto EPA/FELIPE TRUEBA
Image caption Polisi Jerman membantu pengamanan di luar Konsulat Jenderal Turki di Berlin, yang menjadi tempat pemunguran suara.

Terungkapnya aksi mata-mata ini -yang dilaporkan oleh Sueddeutsche Zeitung dan beberapa stasiun radio- kembali mendorong kemarahan para pejabat Jerman.

"Di luar Turki, saya kira tidak ada orang yang percaya bahwa gerakan Gulen berada di belakang upaya kudeta," kata Kepala Dinas Intelijen Jerman, Hans-Georg Maassen.

"Pada tingkat apa pun, saya kira tidak ada orang di luar Turki yang teryakinkan oleh pemerintah Turki."

Sementara itu Menteri Dalam Negeri untuk Negara Bagian Lower Saxony, Jerman, Boris Pistorius mengatakan 'jika terlibat dalam ketakutan atas konspirasi berarti orang itu paranoid'.

Pekan lalu, Kejaksaan Swiss mengatakan pihaknya menyelidiki dugaan bahwa warga Turki yang kritis terhadap pemerintah Erdogan dimata-matai dalam satu pertemuan di Zurich.

Topik terkait

Berita terkait