Ledakan di St Petersburg disebut serangan teroris

Putin Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan karangan bunga di Stasiun Tekhnologicheskiy Institut, St Petersburg.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan ledakan di antara dua stasiun kereta bawah tanah St Petersburg pada Senin (03/04) merupakan "serangan teroris" yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia.

Dalam pernyataan di Facebook, Medvedev juga mengatakan para korban selamat akan diberikan bantuan yang diperlukan.

"Mereka yang mengalami luka dalam serangan teroris di kereta bawah tanah St Petersburg akan diberikan segala bantuan yang diperlukan. Semua perintah yang berkaitan dengan hal tersebut sudah dikeluarkan kepada Kementerian Kesehatan dan Kementerian Darurat."

Sementara itu, Presiden Vladimir Putin mengatakan penyebab pasti ledakan akan terungkap melalui penyelidikan.

"Penyelidikan akan mengungkap semuanya, termasuk apakah karena kecelakaan atau tindak kriminal di samping aksi terorisme, dan tentu semua keterangan selalu diteliti. Kita akan mengetahuinya. Penyelidikan akan memberikan semua jawaban atas apa yang terjadi," kata Putin sebelum mengunjungi lokasi ledakan pada Senin malam waktu setempat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Warga menempatkan karangan bunga di di luar stasiun Sennaya Ploshchad, St Petersburg.

Pihak berwenang di Kota St Petersburg mengatakan 11 orang meninggal dunia dan setidaknya 45 orang luka-luka dalam ledakan di dua stasiun kereta bawah tanah. Jumlah itu lebih banyak dibanding angka yang dikeluarkan sebelumnya.

Menurut kepala Komite Antiteroris Nasional Andrei Przhezdomsky, ledakan menghantam satu kereta di antara dua stasiun, Sennaya Ploshchad dan Tekhnologichesky Institut. Ia mengatakan ledakan disebabkan oleh "alat peledak yang tak diidentifikasi" tetapi penyebab pastinya belum diketahui.

Ditambahkannya bahwa alat peledak ditemukan di stasiun terpisah dan kemudian diamankan.

Topik terkait

Berita terkait