Duterte kirim pasukan ke Laut Cina Selatan

duterte Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengatakan "semua pihak mencoba merebut" Laut Cina Selatan.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, telah memerintahkan pasukan militer negara tersebut untuk menduduki sejumlah pulau dan karang yang disengketakan di Laut Cina Selatan

"Sepertinya semua pihak mencoba merebut pulau-pulau di sana. Jadi mari diami pulau tidak berpenghuni yang merupakan milik kita," kata Duterte kepada wartawan dalam suatu kunjungan ke pangkalan militer di Palawan.

Langkah Duterte diperkirakan akan membuat Cina meradang mengingat negara itu telah mengklaim sebagian besar dangkalan, pulau kecil, dan karang di Laut Cina Selatan.

Bulan lalu, Duterte mengatakan percuma menentang Cina mengingat Cina telah melaksanakan pembangunan pulau buatan di Laut Cina Selatan selama beberapa tahun terakhir.

"Kita tidak bisa menghentikan mereka karena mereka membangun dengan keyakinan bahwa mereka memiliki tempat itu. China akan menggelar perang."

Hak atas foto EPA
Image caption Kapal Angkatan Laut Filipina, BRP Andres Bonifacio FF17, sedang bersandar di Pelabuhan Manila, 6 April 2017. Presiden Duterte telah memerintahkan serdadu Filipina untuk menduduki pulau di Laut Cina Selatan.

Kerek bendera

Perubahan sikap Duterte ditandai dengan rencana kunjungannya ke Thitu, sebuah pulau yang dikuasai Filipina di Laut Cina Selatan. Pria berusia 72 tahun itu mengutarakan keinginannya untuk mengerek bendera Filipina pada 12 Juni, tepat pada hari kemerdekaan.

Dia juga mengusulkan agar sejumlah barak dibangun guna menampung para serdadu Filipina.

Pernyataan Duterte mengenai Cina dan Laut Cina Selatan beberapa kali berubah. Saat berkampanye dalam pilpres, dia menegaskan tekadnya untuk memperkuat klaim Filipina atas sejumlah lokasi di Laut Cina Selatan. Bahkan, dengan nada berkelakar, dia mengatakan bakal menaiki jet-ski ke pulau buatan Cina untuk menegaskan klaim Manila.

Akan tetapi, pada Oktober lalu, Duterte mengumumkan "perpisahan" dengan Amerika Serikat. Saat itu dia mendeklarasikan bahwa pemerintahannya akan membentuk persekutuan Filipina-Cina serta akan menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan melalui perundingan.

Cina saat ini menguasai sejumlah karang di Laut Cina Selatan, antara lain Scarborough Shoal yang direbut dari Manila pada 2012.

Karang itu terletak 230 kilometer dari Pulau Luzon, pulau terbesar di Filipina.

Hak atas foto Reuters
Image caption Cina menggelar pembangunan di Fiery Cross, yang merupakan bagian dari Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan, pada 9 Maret 2017. Foto satelit ini dirilis lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 27 Maret 2017.

Rekam jejak ketegangan menyangkut Laut Cina Selatan

  • 1974: Cina merebut Kepulauan Paracel dari Vietnam seraya membunuh lebih dari 70 serdadu Vietnam
  • 1988: Vietnam dan Cina kembali bentrok dalam memperebutkan Kepulauan Spratly. Vietnam kehilangan 60 pelaut.
  • Awal 2012: Angkatan Laut Cina dan Filipina terlibat dalam ketegangan di perairan Laut Cina Selatan. Kedua negara saling menuduh campur tangan atas Scarborough Shoal.
  • Akhir 2012: Ada klaim yang tidak bisa diverifikasi bahwa Angkatan Laut Cina menyabotase dua operasi eksplorasi maritim Vietnam. Hal ini meletupkan gelombang demonstrasi anti-Cina di Vietnam.
  • Januari 2013: Manila membawa Cina ke Mahkamah Arbitrase PBB berdasarkan Konvensi PBB mengenai Hukum Laut untuk menantang klaim Cina atas Laut Cina Selatan
  • Mei 2014: Pengeboran di dekat Kepulauan Paracel menyebabkan beberapa kapal Cina dan Vietnam terlibat tabrakan beruntun

Topik terkait

Berita terkait