Korea Utara 'siapkan kekuatan penuh' melawan pengerahan armada AS

Kapal induk Carl Vinson dipandu sejumlah kapal perang AS lainnya. Hak atas foto AFP
Image caption Kapal induk Carl Vinson dipandu sejumlah kapal perang AS lainnya.

Korea Utara menyatakan tekad untuk menggunakan kekuatan militer mereka secara penuh jika AS mengambil langkah-langkah militer yang gegabah dalam pengerahan armada tempur ke Semenanjung Korea.

Kementerian luar negeri Korut, dikutip oleh kantor berita KCNA, mengatakan pengerahan itu menunjukkan 'langkah gegabah untuk menyerang' yang telah 'mencapai fase yang serius.'

Komando Pasifik AS berkilah, langkah itu bertujuan untuk menjaga kesiagaan di wilayah itu.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan AS siap untuk bertindak sendiri menghadapi ancaman nuklir Korea Utara.

Sementara Korea Selatan dan sekutu terdekat Korea Utara, Cina, memperingatkan sanksi yang lebih berat jika Pyongyang melakukan uji coba rudal lagi.

Hak atas foto EPA
Image caption Korea Utara telah meluncurkan berbagai ujicoba nudal, bahkan nuklir.

Armada tempur Carl Vinson terdiri sebuah kapal induk dan sejumlah kapal perang lainnya, semula hendak berlabuh di Australia namun kemudian dialihkan dari Singapura ke Pasifik barat, tempat dilakukannya latihan militer AS dengan Angkatan Laut Korea Selatan.

"Kami menganggap AS sepenuhnya bertanggung jawab atas bencana yang mungkin timbul akibat langkah mereka yang berbahaya itu," kata pernyataan kementerian luar negeri seperti dikutip KCNA.

"Republik Rakyat Demokratik Korea siap untuk bereaksi terhadap segala bentuk modus perang yang diinginkan oleh AS," kata pernyataan itu.

Pengerahan angkatan laut AS menunjukkan bahwa Korea Utara telah melakukan hal yang benar dengan mengembangkan kemampuan senjata nuklir untuk digunakan dalam pertahanan diri atau dalam serangan pencegahan, kata pernyataan itu lagi.

Hak atas foto EPA
Image caption Menlu Cina Wu Dawei (kiri) berjumpa utusan Korsel untuk urusan nuklir Kim Hong-kyun (tengah) dan Menlu Yun Byung-se (kanan)

'Langkah-langkah Keras'

Hari Senin (10/4), utusan Cina untuk semenanjung Korea, Wu Dawei bertemu dengan menteri luar negeri Korea Selatan dan utusan khusus untuk urusan nuklir.

Para pejabat Korea mengatakan kepada wartawan bahwa kedua negara sepakat untuk memberlakukan 'langkah-langkah keras lain' jika Korea Utara melakukan uji coba nuklir atau rudal lebih lanjut.

Cina, yang merupakan penyambung hidup ekonomi Korea Utara, telah memberlakukan sanksi ekonomi termasuk larangan semua impor batubara Korea Utara sejak Februari.

Sementara itu, Korea Selatan, AS, dan Jepang menyiapkan suatu pertemuan akhir bulan ini untuk mengkoordinasikan respon bersama terhadap Korea Utara, kata kantor berita Korea Selatan Yonhap.

Pyongyang telah melakukan beberapa tes nuklir dan diperkirakan oleh para ahli bahwa mereka menyiapkan uji coba lain seiring upaya mereka untuk mengembangkan hulu ledak nuklir yang bisa menjangkau AS.

Ada indikasi bahwa Korea Utara mungkin menguji rudal antarbenua, meskipun resolusi PBB melarang mereka melakukan uji coba rudal dan nuklir apa pun.

Korea Utara mengatakan langkah mereka diprovokasi oleh latihan militer antara AS dan Korea Selatan, yang mereka anggap sebagai persiapan untuk invasi.

Berita terkait