Presiden Suriah sebut klaim serangan kimia sebagai 'rekayasa belaka'

Bashar al-Assad Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Bashar al-Assad menepis tuduhan-tuduhan dalam wawancara dengan AFP di Damaskus.

Presiden Suriah Bashar al-Assad menepis tudingan bahwa pasukan militer negara itu melancarkan serangan dengan senjata kimia awal bulan ini yang menyebabkan lebih dari 80 orang meninggal dunia dan memicu Amerika Serikat melakukan serangan rudal terhadap pangkalan udara Suriah sebagai balasannya.

Dalam wawancara pertama sejak dugaan serangan di Khan Sheikhoun, Assad mengatakan kepada kantor berita Prancis, AFP, bahwa klaim seperti itu rekayasa belaka.

"Jelas, 100% rekayasa. Kami tidak mempunyai simpanan senjata, kami tidak akan menggunakannya," tegas Presiden Assad.

Ditambahkannya "tidak ada perintah untuk melakukan serangan" di kota yang dikuasai pemberontak, Khan Sheikhoun, pada tanggal 4 April.

Selain menyebabkan puluhan orang meninggal dunia, peristiwa itu juga membuat ratusan orang mengalami gejala-gejala yang konsisten dengan serangan agen saraf.

Menurut sejumlah saksi mata, pesawat-pesawat tempur menyerang Khan Sheikhoun tetapi Rusia, yang membantu Suriah dalam upaya melawan pemberontak, mengatakan gudang senjata kimia milik kelompok pemberontak terkena serangan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Korban mengalami gejala-gejala yang biasanya timbul karena paparan agen saraf.

Rekaman video menunjukkan para korban - banyak di antara mereka anak-anak - mengalami kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulut mereka. Sebagian dari mereka dilarikan ke rumah sakit di wilayah Turki.

Amerika Serikat mengatakan tidak diragukan lagi pasukan militer Suriah melancarkan serangan gas beracun tersebut.

Tes yang dilakukan di Turki dan Inggris menunjukkan Sarin atau zat seperti Sarin, yang sudah dilarang sejak 2013, ditemukan dalam kejadian di Khan Sheikhoun.

Berita terkait