Rusia 'gagal' dalam kasus Beslan yang menewaskan 330 orang lebih

Rusia, Beslan, Hak atas foto AFP
Image caption Sebagian besar korban adalah anak-anak, yang baru menyelesaikan upacara menandai dimulainya tahun ajaran baru, pada 1 September 2004.

Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa menutuskan Rusia gagal mencegah pengepungan sekolah di Beslan tahun 2004 lalu, yang menewaskan 330 orang lebih.

Operasi untuk menghentikan penyanderaan -dengan menggunakan senjata berat- dan penyelidikan yang menyusul juga mendapat kritik keras.

Selama tiga hari mulai 1 September 2014, pemberontak Chechnya menyandera lebih dari 1.000 orang, yang sebagian besar anak-anak.

Pasukan Rusia kemudian menyerbu ke dalam gedung dan korban yang selamat mengatakan mereka menggunakan kekuatan yang berlebihan.

Hak atas foto AFP/YURI TUTOV
Image caption Aparat keamanan Rusia disebut menggunakan kekuatan berlebihan saat menggelar operasi membebaskan sandera yang menyebabkan korban jiwa tinggi.

Tidak ada pejabat Rusia yang diminta pertanggungjawaban dalam kasus yang menewaskan ratusan orang itu, termasuk 186 anak-anak.

Pria dan perempuan bertopeng yang mengenakan sabuk bahan peledak menerobos masuk ke dalam sekolah dengan melepas tembakan di halaman sekolah tak lama setelah upacara menandai awal musim tahun ajaran.

Beberapa pertanyaan

Para sandera dipaksa masuk ke dalam aula olah raga di bawah bahan peledak yang digantung di keranjang bola basket. Penyandera menuntut pasukan Rusia mundur dari Chechnya.

Penyanderaan berakhir pada hari ketiga dengan dua ledakan besar dan tembak menembak yang sengit.

Hak atas foto AFP/MIKHAIL KLIMENTIEV
Image caption Keadaan aula olahraga sekolah setelah operasi pembebasan sandera, yang menewaskan 300 orang lebih.

Saksi mata dan korban yang selamat mengatakan aparat keamanan Rusia tampak kacau balau dengan menggunakan senjata berat dan kekuatan yang berlebihan.

Hanya seorang penyandera dari sekitar 30 orang yang berhasil ditangkap hidup-hidup dan diadili.

Selama lebih dari 10 tahun, keluarga dan korban yang selamat tertanya-tanya apakah penyanderaan itu bisa dicegah dan kenapa terlalu banyak korban jiwa dalam operasi penyelamatan.

Hak atas foto AFP/YURI TUTOV
Image caption Karena tak mendapat jawaban atas pertanyaan, sekitar 400 orang 'mengadu' ke Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa.

Ada informasi intelijen

Para pejabat, termasuk Presiden Vladimir Putin -menurut mereka- menangani krisis itu dengan tidak tepat dan mengabaikan informasi intelijen bahwa ada rencana upaya penyanderaan.

Sementara penyelidikan yang dilakukan di dalam negeri terhenti beberapa tahun lalu sehingga lebih dari 400 orang membawanya ke Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa.

Mereka mengatakan Rusia memiliki informasi yang cukup bahwa ada rencana serangan di kawasan itu namun gagal mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya.

Selain itu mereka berpendapat bahwa 'senjata berat seperti meriam tank, peluncur granat, dan pelempar api' yang digunakan menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang tinggi.

Negara-negara Eropa harus mematuhi keputusan mahkamah, yang tidak memiliki wewenang untuk menerapkannya.

Topik terkait

Berita terkait