'Induk dari Segala Bom': Daya ledak, biaya produksi hingga efek ketakutan

IDSB Hak atas foto Getty Images
Image caption Uji coba 'Induk dari Segala Bom' di Florida, AS, pada 2003.

'Induk dari Segala Bom' yang dijatuhkan militer Amerika Serikat di kawasan Afghanistan Timur menewaskan 36 anggota kelompok militan, kata pemimpin Afghanistan Abdullah Abdullah.

Selain menewaskan milisi, bom ini juga menghancurkan persediaan senjata.

Ia mengatakan serangan pada Kamis (13/04) ini dirancang bersama antara militer AS dan Afghanistan dan ditujukan untuk melemahkan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

Beriut tiga hal dari 'Induk dari Segala Bom' yang mungkin perlu Anda ketahui:

1. Seperti apa bentuknya?

Nama resmi senjata ini adalah GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Boms (MOAB). Dalam istilah militer, biasa disebut 'Induk dari Segala Bom'.

Bom ini memiliki panjang sembilan meter dengan bobot 9.800 kilogram, tak mengherankan jika dikatakan sebagai senjata dengan ukuran raksasa.

Dilengkapi dengan GPS, sistem penentu letak berbasis satelit, bom ini bisa diatur sedemikian rupa sehingga bisa menghantam sasaran dengan akurat, berkat parasut dan empat sirip yang ada pada senjata ini.

Hak atas foto Getty Images
Image caption 'Induk dari Segala Bom' disiapkan di pangkalan Angkatan Udara AS di Eglin, Florida.

GBU-43/B diledakkan sesaat sebelum mencapai permukaan tanah. Efek gelombang ledakan sangat masif dengan area yang terkena dampak ledakan mencapai lebih dari 1,2 kilometer ke segala arah. Daya ledak yang sangat besar ini dimungkinkan karena bom ini dibuat dari 8.000 kilogram bahan peledak Trinitrotoluena (TNT).

Lapisan luar (casing) terbuat dari alumunium, yang ditujukan untuk memaksimalkan dampak ledakan.

GBU-43/B masuk dalam kategori bom nonnuklir dan karena itu penggunaannya tidak memerlukan persetujuan presiden AS.

2. Kapan mulai diproduksi? Berapa ongkosnya?

GBU-43/B dikembangkan saat militer AS melancarkan perang di Irak, dengan salah satu tujuan adalah menghancurkan terowongan dan fasilitas di bawah tanah.

Produksi satu unit GBU-43/B memerlukan ongkos US$16 juta atau sekitar Rp212 miliar. Pertama kali diuji coba pada 2003 tapi tak pernah dipakai, hingga hari Kamis, 13 April 2017.

Dari sisi dimensi, GBU-43/B adalah bom nonnklir paling berat dan untuk mengangkutnya, militer AS mengerahkan pesawat MC-130.

Bom ini dikembangkan oleh perusahaan bernama Dynetics yang berkantor di Alabama.

3. Selain AS, negara mana yang mengembangkan bom masif ini?

Hak atas foto Public Domain
Image caption 'Induk dari Segala Bom' diledakkan sebelum menyentuh daratan.

Selain Amerika Serikat, Rusia juga mengembangkan jenis bom serupa yang diberi nama Bapak dari Segala Bom.

Bom yang dikembangkan Rusia masuk dalam jenis senjata thermobaric, yang memanfaatkan oksigen di sekitarnya untuk menghasilkan ledakan dengan daya dan temperatur tinggi.

Bom yang dibuat Rusia ini biasanya diledakkan dalam dua tahap.

Dampak lain dari bom-bom ini -selain daya ledaknya yang masif- adalah efek psikologis, yaitu menyebabkan ketakutan di pihak lawan.

GBU-43/B dikembangkan setelah senjata serupa seperti BLU-82 Daisy Cutter yang berbobot 6.800 kilogram, yang antara lain dipakai untuk meratakan tanah agar bisa didarati helikopter.

Topik terkait

Berita terkait